Prologue 2

TWELVE LITTLE KOREANS [Character Profile : EXO-K]

*

 [Kim Joonmyun aka Suho]

Suho keluar dari kamar hotel berplat 302. Di tangannya terselip lembaran uang ratusan won yang membuat senyum di wajah rupawan Suho melebar. Ia terkekeh geli dan merapikan kerah kemejanya yang agak berantakan akibat aksinya di kamar hotel tadi.

“Perempuan bodoh. Adegan NC tadi kurang memuaskan, tahu. Baru sejam berjalan sudah lemas begitu. Kekeke~ yang penting hari ini aku dapat bayaran lebih!”

Suho terkekeh geli dan berjalan menyusuri lobi hotel sambil menghitung uang hasil ‘aksinya’ barusan. Agak lebih, mungkin karena perempuan yang menjadi tamunya kali ini belum berpengalaman. Itulah indahnya mendapat pekerjaan seperti ini, menurut Suho. Sebagai Cassanova juga begitu menguntungkannya.

“Humm, habis ini ada order lagi, ya. Tamunya di… oh, kamar 013.” Suho melirik ponsel yang baru saja dikirimi pesan oleh bosnya untuk order berikutnya. Suho tersenyum, kali ini ia berharap bahwa tamunya kali ini dapat memuaskan hasratnya yang sudah membeludak.

Suho membuka pintu hotel dan mendapati seorang gadis cantik di sana. Berpakaian seksi dan menggoda. Suho menelan air liurnya sendiri. Tak perlu menunggu lama Suho langsung menyerang gadis itu tanpa awalan. Ia langsung ‘tancap gas’ dan tak mau menunggu lama lagi karena nafsunya yang kian berkobar. Desahan-desahan terdengar ganas di dalam kamar tersebut, melarutkan keduanya dalam suasana memabukkan. Satu jam ia selesai menggeluti tubuh gadis itu. Tak ada jawaban. Suho mengernyit dan menatap gadis tersebut yang sekarang bertelanjang bulat.

“Ya, apa kau sudah puas?” tanyanya.

Gadis itu mendesah. “Hmm. Sudah. Kalau begitu aku pergi dulu, chagi. Terima kasih atas layanannya.” Gadis itu berbisik di telinga Suho dan membuat lelaki itu menegang hingga ia menutup matanya, merasakan punggungnya tergelitik. Ketika ia membuka matanya ia sudah tak mendapati gadis itu lagi di samping ranjangnya. Suho bangkit dan menelusur sekitar. Gadis itu pergi. Ia bahkan tak mendengar suara debaman pintu tertutup sebelumnya.

Yang dapat Suho temukan setelah itu hanya sebuah amplop. Suho tersenyum, yang penting ia dapat bayaran. Namun ketika Suho membuka isi amplopnya yang ia dapatkan hanyalah secarik surat. Suho mengernyit. Gadis itu mengiriminya surat? Bukan. Surat itu berkata lain. Suho tiba-tiba merasakan tubuhnya merinding seketika.

“Bertemu nasib?”

[Kim Jongin aka Kai]

Kai baru saja pulang dari latihan dance streetnya sore ini. Ia terduduk di teras rumahnya, masih memijit betisnya yang serasa hendak remuk tatkala mengingat latihan tadi yang sungguh kejam. Ia orang baru di perkumpulan street dance itu. Wajar jika seniornya mengerjainya habis-habisan.

“Jung Yunho, akan kubalas kau kalau aku sudah menjadi artis besar! Hih!” Kai mengepalkan tangannya sekuat tenaga ke udara kosong untuk menyemangati dirinya sendiri. Bagaimanapun juga menjadi penari hip-hop adalah cita-citanya sejak kecil. Bergabung dengan street dance itu hanya langkah awalnya saja.

Kai menatap pintu yang menjadi senderan punggungnya saat ini dengan lemas. “Oh, iya. Eomoni dan Abeoji sedang pergi sampai larut. Noona juga sibuk dengan kekasihnya. Aa, enaknya orang-orang yang mempunyai pasangan! Aku juga ingin satu.” Oceh Kai sembari mengacak rambut keritingnya dengan kasar dan menghembuskan napasnya berat.

Kai menatap sekeliling. Langit sudah berubah kuning kemerahan dan itu semakin membuat dirinya kesal. Orangtuanya tak meninggalkan kunci duplikat di bawah karpet pintu rumahnya dan membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana ia bisa masuk ke dalam rumahnya? Perutnya sudah menggelar konser tunggal sementara uang untuk makan di luar hanya tinggal seratus won.

Lelaki itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tiba-tiba sebuah bunyi bel sepeda mengangetkannya. Ia bangkit tegap dan mendapati seorang gadis bersepeda tiba-tiba saja melemparkan sebuah koran ke arahnya dan Kai reflek menangkap koran tersebut sebelum mengenai wajahnya. Untung refleknya masih bagus. Ia menatap kesal ke arah gadis si pelempar koran yang buru-buru pergi ketika melihat Kai menatapnya dan membuat Kai mendengus kesal.

“Gadis sialan. Kalau koran ini terbentur kepalaku dan membuatku luka, majalah The People akan kehilangan cover boy nya, yaitu aku.” Ucapnya percaya diri. Namun tiba-tiba dirinya tersadar akan sesuatu. “Tunggu, ini kan sore hari. Kenapa ada penjual koran yang lewat?”

Merasa ada yang aneh, Kai buru-buru membuka gulungan koran tersebut dan terkejut ketika mendapati sebuah kertas tertempel di atas lembar koran itu. Di dalamnya terdapat berbagai kalimat. Ia yakin, itu adalah surat. Aneh sekali, memberi surat dengan cara tadi berbahaya. Kenapa gadis itu tidak ke kantor pos saja? Kai membaca kertas tersebut dan seketika matanya melebar dengan sempurna. Mulutnya ikut terbuka, menampilkan ekspresi terkejut yang amat sangat.

“Acara misteri? Aku?”

 [Park Chanyeol]

Chanyeol melemparkan sebuah stik drum ke arah penggemar bandnya yang membeludak histeris. Ia lalu memberi salam perpisahan dengan member bandnya yang lain dan kemudian berjalan ke belakang panggung. Konser bandnya kali ini sungguh besar, keringat bercucuran melalui kaus v-neck nya sementara Chanyeol merebahkan dirinya di atas sofa backstage.

“Aish, tanganku benar-benar mau copot menabuh drum. Membawakan sepuluh lagi tanpa break itu sungguh kejam.” Gerutunya sambil memijat lengan kanannya kesal.

“Jangan mengeluh begitu, ah. Tur konser kita tinggal negara kita sendiri, lho.” Sahut Jonghoon yang sedang memainkan bassnya di hadapan Chanyeol.

“Baguslah. Aku rasa aku mati sekarang.” Chanyeol bersungut.

“Park Chanyeol!” Chanyeol menoleh ketika manajernya datang bersama seorang gadis yang tak Chanyeol kenal. Gadis itu membungkuk, mau tak mau Chanyeol juga demikian. “Ini adalah fan guest yang sudah kukatakan tadi. Promotor sengaja memilih lima penggemar untuk bertemu dengan masing-masing member favoritnya. Dan, ini adalah penggemarmu. Dan oh, Jonghoon-ya, fan guest mu ada di sebelah sana. Kajja!” jelas sang manajer sambil mengarah pintu samping. Jonghoon langsung bergegas bangun dan menemui fan guestnya.

Sementara Chanyeol masih memandangi gadis di hadapannya. Jauh lebih pendek, memakai dress merah yang menggemaskan. Chanyeol tersenyum canggung. “A-annyeong.”

Gadis itu tanpa basa-basi menyerahkan sebuah kertas tanda-tangan ke hadapan Chanyeol. Chanyeol tanggap akan maksud tersebut. Ia kemudian mengeluarkan bolpoin dari saku celananya.

“Tunggu,” tiba-tiba gadis itu bersuara, “aku mau kau memakai bolpoin ini.” Gadis itu menyerahkan sebuah bolpoin merah ke arah Chanyeol. Walaupun merasa aneh, toh Chanyeol tetap menerimanya dan menandatangani ulang kertas tersebut.

“Terima kasih, Park Chanyeol.” Ucap gadis itu aneh. Chanyeol baru saja akan menyerahkan kembali kertas tanda-tangannya kepada gadis tersebut namun dilihatnya gadis itu tiba-tiba melenggang pergi dari hadapannya dan tanpa mengambil kertas tanda-tangan di tangan Chanyeol.

“Lho, Nona? Nona!” Chanyeol baru saja akan mengejar gadis itu. tapi gadis itu sudah terlanjur hilang dari pandangan. Chanyeol menggaruk tengkuknya keheranan dan menatap kertas tanda-tangan yang diberikan gadis tadi. Ekspresinya tambah bingung lagi ketika ia mendapati isi kertas tersebut bukankah tanda tangannya. Melainkan sebuah pesan singkat dengan bolpoin merah yang membuat alisnya bertekuk.

“Misteri apa. Bukankah Halloween masih lama?”

[Oh Sehun]

“Cut!”

Sehun menghela napasnya dan menerima handuk pemberian manajernya dengan lemas. Matahari begitu terik, sementara ia masih harus menjalani tiga adegan di tengah lapangan kosong sepanas gurun pasir itu untuk take syuting film barunya hari ini. Sehun menyeret kakinya menuju kursi untuk mengistirahatkan dirinya sejenak. Ia masih harus bersabar. Syuting akan selesai dua minggu lagi dan dia akan bebas dari penderitaan ini. Ia aktor besar. Walau sebenarnya ini kali pertamanya bermain film sebagai tokoh utama.

“Oh Sehun! Setelah kita pindah lokasi di Sungai Han. Untuk take 907, nanti kau hapalkan naskahnya ya!” seru sang asisten sutradara sambil memindahkan peralatan kamera. Sehun mengangguk dan meraih kertas naskah di meja samping kursinya.

Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Sehun. Sehun mendongak, ia mendapati sesosok wanita berambut panjang dengan dress merah menatapnya lembut. “Hai. Aku lawan mainmu di film ini.” Ucapnya, tegas.

Sehun mengernyit, merasa aneh. “Lawan main? Tapi, lawan mainku Go Ara, Nona.”

Wanita itu tersenyum sambil meraih naskah Sehun dengan, agresif? “Aku cameo. Akan muncul di akhir cerita.” Ucapnya, dengan suasana aneh yang membuat Sehun bertanya-tanya, namun pikirannya saat ini sedang tidak fokus akibat kelelahan syuting.

Sehun kemudian memilih mengangguk mengerti. Tapi dalam hatinya berkata lain. Sehun kembali memandangi wanita di hadapannya dengan aneh. Selama lima tahun terjun di dunia akting, ia tak pernah melihat aktris seperti wanita itu di layar kaca manapun. Wanita itu membolak-balikkan naskah Sehun dan membuat lelaki itu risih. Wanita itu kemudian mengembalikan lagi naskahnya kepada Sehun seolah menganggap naskah yang dipegangnya itu sungguh tak bermutu.

“Sehun-ssi, fighting.” Ucapnya pelan, lalu beranjak pergi dari tempat dan meninggalkan Sehun yang masih terdiam. Bingung. Heran.

Sehun menggelengkan kepalanya mencoba untuk mengabaikan wanita aneh tadi dan memilih untuk menghapalkan naskah adegan Sehun selanjutnya. Namun saat ia membuka halaman dialog take yang dimaksud, ia mengernyit. Secarik kertas terselip di sana dan Sehun segera menyambarnya. Dibacanya kertas tersebut dan membuat Sehun mengernyit penasaran. Ia bahkan tak mendengar panggilan manajernya untuk segera pindah ke lokasi syuting lainnya karena terlalu sibuk mengartikan isi kertas tersebut.

“Pemujaan?”

 [Byun Baekhyun]

Baekhyun menyalami beberapa fansnya di acara fansigning pertamanya. Selama dua jam ia terus-terusan tersenyum. Tangannya tak henti mengukir tanda tangannya di atas poster bergambar dirinya. Beberapa gadis ikut menjerit histeris tatkala melihat sosoknya yang menawan. Byun Baekhyun, dengan aura pangerannya berhasil membawa album mini pertamanya meluncur laris.

“Ahaha. Terima kasih.” Ucapnya sesekali. Berusaha mempertahankan senyumnya yang terlihat terpaksakan karena lelah tersungging. Sang manajer yang berdiri di sampingnya mengecek jam tangannya dengan cemas. Kemudian beliau menoel pundak Baekhyun dan membisikkan sesuatu.

“Cepatlah, ini sudah lebih dari schedule. Kau masih harus show di Inkigayo.”

Baekhyun tersenyum menenangkan setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih saat beberapa penggemarnya berlalu setelah mendapatkan tanda tangannya. “Tunggu dulu, fans nya tinggal sedikit lagi.”

Sang manajer mendesah dan mundur perlahan. Membiarkan Baekhyun menebar pesonanya lebih lama terhadap penggemar fanatiknya itu. Tangannya mulai keriting. Tinta spidol yang dipakainya sudah hampir kering namun senyum masih terulas di bibir Baekhyun. Ini masih belum seberapa. Tur konserya yang akan dimulai tiga bulan lagi pastinya akan lebih berat daripada ini.

Satu persatu fans beranjak dari tempatnya. Tinggalah seorang fans lagi, wanita, mengenakan dress merah selutut dan tampak menggemaskan. Baekhyun senang dengan tipe ini. Ia menyunggingkan senyumnya.

Wanita itu menyodorkan sebuah poster Baekhyun dan menyodorkan bolpoin. “Tolong tanda tangannya.” Ucapnya aneh. Baekhyun mengernyit. Wanita ini tak menjerit histeris saat berhadapan dengannya. Ia juga menyodorkan poster bergambar Baekhyun di tengah kegelapan ala hutan.

Seingatnya, ia tak pernah melakukan pemotretan dengan tema demikian. Namun Baekhyun tetap memberikan tanda tangannya dan menyerahkannya kembali pada sang wanita itu. Wanita itu membungkuk dan berlalu pergi. Baekhyun masih menatapnya aneh. Manajer menoel pundaknya lagi sehingga Baekhyun tersadar dari lamunannya dan beranjak dari tempat itu. Namun saat Baekhyun bangkit, ia mendapati secarik kertas dalam genggamannya. Ia mengernyit lagi, sejak kapan ada secarik kertas di tangannya?

Baekhyun penasaran dan kemudian membuka isi kertas tersebut dan membacanya. Seketika ekspresinya berubah. Tangannya menegang dan matanya melebar.

“Hanya orang-orang terpilih yang diundang? Termasuk aku?”

[Do Kyungsoo aka D.O]

“Kyungsoo-ssi, pesanan meja nomor enam mana?”

Kyungsoo memberi sentuhan daun parsley di atas pancake yang ia buat. Panggilan Kibum, pelayan di kafe tempatnya bekerja dari luar membuatnya bergegas membawa pancake buatannya dan memberikannya pada Kibum di luar. Kibum menyambar pancake tersebut dan segera berjalan menuju meja pesanan yang dimaksud. Namun sebelum Kibum melangkah ia menyempatkan diri berbalik ke arah Kyungsoo. Kibum menunjuk ke dalam dapur lagi memberi isyarat.

“Escargot nya sudah jadi, aku mau membuang sampah dulu nanti, jadi bisakah kau saja yang memberikannya pada pelanggan? Shift Changmin sudah lewat jadi dia sudah pulang. Bisakah?” pinta Kibum menjelaskan.

Kyungsoo memutar bola matanya dan mengedik. “Boleh. Meja nomor berapa?”

Kibum menunjuk meja di pojok kafe yang di mana di sana terdapat seorang gadis di sana tengah memandang ke luar jendela. Sendirian. Menatap dunia luar Seoul yang mulai pekat.

Kyungsoo mengangguk. “Baiklah, baik.” Kyungsoo kemudian masuk kembali ke dapur. Dilihatnya di salah satu etalase, sepiring escargot yang tampaknya buatan koki lain terpampang indah di sana. Kyungsoo menyambarnya dan segera mengantarkan piring tersebut ke arah meja yang dimaksud Kibum tadi. Kyungsoo meletakkan piringnya di atas meja dan gadis yang ia yakin tengah melamun itu sontak menoleh.

“Terima kasih.” Ucapnya kaku. Kyungsoo membungkuk hormat dan hendak melangkahkan kakinya kembali ke dapur. “Tunggu.”

Kyungsoo terhenti. Gadis itu bersuara dan membuat Kyungsoo menoleh ke arahnya lagi. “Ada apa, Nona?”

Gadis itu terlihat ragu. “Maukah, kau menungguku sampai selesai makan?”

Kyungsoo terlihat terkejut. Namun lelaki itu dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya dengan mengalihkan pandangannya canggung. “Err, baiklah.” Akhirnya ia menjawab demikian, mengingat belum ada pesanan di dapur menunggunya.

Sekian menit Kyungsoo menanti gadis itu makan, tiba-tiba gadis itu bangkit dari duduknya dengan saputangan yang ia gunakan untuk mengelap sudut bibirnya. “Terima kasih, aku pergi. Ini tip nya.” Ucap gadis itu dan segera berlari terburu-buru ke luar dari kafe tersebut. Kyungsoo masih terbengong melihat gadis tersebut berlalu. Aneh. Batinnya.

Kyungsoo mengangkat bahunya tak peduli dan langsung tersenyum ketika menata tip di atas meja yang ditunjukkan kepadanya. Tambahan. Ia membuka lipatan kertas amplop tersebut dan mengernyit ketika tahu bahwa isi dari kertas itu bukanlah uang. Melainkan surat. Kyungsoo membacanya dengan penasaran dan buru-buru melebarkan matanya, tercengang.

“Duabelas Anak Korea?”

 

To Be Continued

 

Advertisements

2 thoughts on “Prologue 2

  1. suho karaktermu mengerikan sekali… 😯
    cie itu chanyeol, baekhyun, sehun jadi artis 😀
    aku baru nyadar kalau yang ngasih surat itu cewek yang sama ya? soalnya deskripsi si ‘pengantar surat’ selalu pake dress merah gitu bener ga sih? 🙄
    okay aku mau tarik napas dulu sebelum baca day 1 huhu <– paranoid sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s