Prologue 1

TWELVE LITTLE KOREANS [Character Profile : EXO-M]

*

[Wu YiFan aka Kris]

Kris mengamati ruangan sekitarnya. Putih. Namun properti ruangan yang berbeda dari yang sebelumnya ia lihat mengasumsikan bahwa ia telah keluar dari ruang operasi dan tengah kembali di dalam bangsalnya sendiri. Ternyata operasi begitu rasanya. Ia menatap sekitar, sebuah buket bunga terpampang manis di sampingnya, membuatnya tersenyum kecil. Rupanya sudah ada yang menjenguknya kemari selepas operasi. Dan ia rasa ia tahu siapa itu. Yang memberikan bunga itu.

Kris mengambil sebuket bunga dari atas meja samping kasurnya dan meringis pelan ketika ia merasakan perut kirinya begitu sakit saat ia berusaha bangkit dari tidurnya barusan. Infus masih menghiasi tangan kirinya sementara pakaian pasien yang dikenakannya sama sekali tak membuatnya nyaman.

“Ayolah, perutku. Kau baru saja operasi usus buntu, harusnya kau bersyukur dan menurutlah padaku.” Keluhnya dan menepuk perutnya sendiri. Namun lagi-lagi yang dirasakannya hanyalah rasa sakit yang luar biasa karena ia menepuk perutnya tepat di atas bekas operasinya. Ia meringis menahan sakit.

Kris mendesah. Ia menatap sebuket bunga carnation merah di tangannya sambil tersenyum kecil, memamerkan bibir tipisnya yang rupawan. Dari gadis itu, Sora. Tunangannya. Ia belum pernah merasakan cinta sejati sebelumnya, namun semenjak ia menetap di Korea, segalanya berubah. Tiga minggu lagi mereka akan menikah dan untuk itu usus buntu Kris harus segera ditangani dengan cepat sebelum mereka menikah nantinya.

Tapi, ia tak yakin bahwa bunga tersebut pemberian dari Sora. Tidak kali ini, meski ia menemukan bunga ini sudah terpampang di atas meja samping kasurnya dengan rapi seperti kebiasaan Sora tiap kali menjenguknya di rumah sakit saat bangun tidur tadi, entah kenapa dirinya menyimpulkan bahwa bunga itu bukan pemberian Sora. Ia tak yakin, atau bahkan antara yakin atau tidak, sebab dirinya tengah tertidur sebelum bunga ini berada di ruangannya.

“Sora belum meneleponku. Apa ia tidak tahu aku baru saja selepas operasi?” gumamnya, masih antara yakin dan tidak tentang siapa yang mengirimkan bunga ini. Sepucuk surat yang menyelip di antara rangkaian bunga carnation itu lah yang menjadi pembedanya. Berwarna merah, sehingga hampir tak terlihat jika disejajarkan dengan bunga carnation merah di sekelilingnya. Jika Sora yang memberikan bunga tersebut, lantas kenapa musti membubuhi surat? Sora bukan orang yang bertele-tele, ia tahu itu. Akhirnya dengan penasaran Kris membuka surat kecil tersebut dan membacanya dengan serius.
Seketika wajahnya memancarkan semburat keanehan. Bola matanya melebar dan ia tak yakin dengan tiap kalimat di surat tersebut.

“Undangan?”

[Xi Luhan]

Luhan menyelesaikan sesi pemotretan untuk sebuah majalah dan segera dihampiri oleh manajernya. Ia mengambil handuk yang disodorkan manajernya tersebut dan mengelap peluhnya yang membanjiri lehernya. Membuat lelaki berkulit porselen tersebut terlihat begitu mempesona.

“Selanjutnya ke mana?” Luhan bertanya singkat, manajernya segera mengecek papan jalan yang dibawanya dan membenarkan sedikit letak kacamatanya.

“Fawn. Mobil sudah siap di depan tapi kau harus berganti pakaian dulu.” Jelasnya.

“Begitu? Huh, menyusahkan.” Keluhnya malas.

“Jangan begitu. Setelah album fotomu terjual di pasaran, kau akan debut menjadi artis dan SM sudah merekrutmu. Kita akan pindah ke Korea nanti sore.” Sang manajer menjelaskan, mencoba membuat Luhan menghentikan sifat egois dan diktatornya itu.

“Agensi Pak Tua itu? Astaga, dunia ini sudah gila. Tapi, yah, tak apalah. Korea adalah mimpiku.” Luhan langsung melempar handuk tersebut ke arahnya dan berjalan meninggalkan sang manajer dengan acuh menuju ruang ganti. Pemotretan kali ini cukup menguras energi. Sebagai salah satu lelaki ulzzang, Luhan mau tak mau harus direpotkan dengan kegiatan seperti ini karena banyak netizen di luar sana yang menginginkan foto-foto dirinya yang tampan tersebut. Beban lelaki tampan, Luhan melumrahkan hal tersebut.

Sesampainya di ruang ganti, Luhan dihampiri oleh seorang wanita. Penata rias, ia rasa. Dari gayanya juga langsung ketahuan. Luhan duduk di kursinya, bersiap untuk dihapus make-up nya oleh sang penata rias namun wanita tersebut hanya menggeleng kecil dan menunjuk sebuah paket aneh yang berada di atas meja rias Luhan.

“Um? Apa ini?” Luhan menyambar paket tersebut dan buru-buru membukanya. Ia tersenyum lebar. Ia rasa ini adalah hadiah dari para fansnya. Maklumlah. Ia bahkan memiliki tiga fanpage di situs berbeda dengan anggota lima ribu lebih. Merasa pertanyaannya tak dijawab, Luhan mendongak sebelum paket itu terbuka seutuhnya. Ia mengernyit. Penata rias tersebut telah pergi dan ruangan kembali kosong. Luhan menaikkan bahunya, mungkin penata rias itu ingin merias artis lain di pemotretan selanjutnya. Ia kemudian meneruskan kegiatannya membuka paket itu.

Namun tiba-tiba ia mengernyit. Secarik surat. Hanya itu isi paketnya. Luhan menyambarnya dan segera membacanya cepat. Apakah ini surat pernyataan cinta? Bukan. Bukan surat cinta. Luhan melebarkan matanya saat selesai membaca surat tersebut.

“Pulau selatan?”

[Huang ZiTao aka Tao]

Tao mengelap peluh yang membasahi v-neck ketatnya sambil mencangklok ranselnya sebelah pundak. Di tangannya yang lain terselip sebuah tongkat kayu, kesayangannya. Di sepanjang lorong kelas, yang merupakan sekolah barunya semenjak menetap di Korea, dirinya hanya dapat tersenyum menanggapi pujian-pujian dari para penggemarnya setelah Tao yang berhasil mengalahkan preman sekolah sombong itu, G.D, dalam sebuah battle satu lawan satu yang dengan sukses dimenangkan oleh Tao. Ia sudah tak tahan dengan lelaki diktator itu. Beruntung ia dibekali skill wushu yang cukup untuk mengalahkan G.D, ia pun tak perlu repot-repot mengalahkannya karena si G.D itu ternyata hanya lelaki sok yang memakai kekerasan dan menjadikan gengnya sebagai tameng perlindungan dirinya yang sebenarnya lemah. Memuakkan.

“Yo, Tao! You did it, Man!” Henry melingkarkan tangannya di pundak Tao dengan tiba-tiba, sementara Tao terkekeh sambil membuka lokernya untuk mengganti sepatu olahraganya.

“Ahaha, akan kutraktir kau dan geng atas kemenangan ini, hanya saja…” Tao menggantungkan kalimatnya, “jangan panggil aku Tao. Panggil aku Yang Mulia ZiTao. Aku adalah Dewa Wushu, tahu.” Tao bersungut kecil, sementara Henry mengacak-acak rambut lelaki itu dengan usil dan tertawa lebar. Tao menangkis tangan lelaki itu dengan sigap seolah merasa terganggu. Ia melanjutkan kegiatannya mengganti sepatu olahraga dengan sepatu sekolahnya. Namun tiba-tiba matanya menangkap suatu benda asing di atas sepatu sekolahnya. Sepucuk surat. Tao mengambilnya dan menilik Henry agar mengamati benda tipis itu bersama.

“Apa ini?” Tao bertanya polos.

“Kau tidak tahu? Itu surat, bodoh.” Henry menjawab diplomatis.

“Aku tahu. Maksudku, kenapa tiba-tiba bisa ada surat di sini? Lokerku kukunci dan ventilasi loker sudah kublok dengan poster Mick Jagger. Apa…” Tao menghentikan kalimatnya untuk memberikan kesan dramatis.

Henry mendelik. “Buka surat itu, cepat!”

Tao menurut. Ia buru-buru membuka surat di tangannya dengan penasaran. Jika ini surat cinta dari penggemarnya, itu tidak mungkin. Tao sudah melarang seluruh gadis di sekolahnya untuk menyampah di lokernya dengan surat-surat semacam itu sebulan lalu. Lantas, apa masih ada yang berani melanggar perintah Tao?

Seketika Tao menautkan alisnya. Bingung. Aneh. Gemetaran. Semua bercampur menjadi satu setelah ia membaca isinya. Ia tak mengerti maksud surat itu namun serasa terhipnotis, Tao mengangguk mengerti. Tatapan matanya berubah kosong. “Kamis malam, ya.”

[Kim JongDae aka Chen]

Chen menghela napasnya berat. Ini sudah kelima kalinya skripsinya ditolak. Dan malam ini ia harus membenarkan kesalahan yang bahkan tak diberitahu dosen Jun dalam naskahnya itu. Sungguh ia tak pernah menyangka, tahap akhir kuliah untuk pembuatan skripsi sungguh menyiksa harinya.
Chen menjatuhkan dirinya di atas kursi belajarnya dan memeriksa ulang naskahnya dengan teliti. Lama. Hingga ekspresi teliti di wajahnya berubah kesal.

“Ini sudah benar, kok! Dosen itu ingin mengerjaiku, hm? Pembalasan dendam karena selama semester enam aku hanya mengikuti kelasnya dua kali?” sungutnya kesal, hendak membejek kertas itu namun ia masih tidak ingin mengulang seluruhnya kembali. “Kalau begitu apa yang salah?” tanyanya sendiri, begitu penasaran.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya dan membuatnya tersentak pelan. “Hyung! Buka pintunya! Hyung!”

Minwoo. Adik laki-lakinya, ternyata. Chen menghela napasnya lalu bangkit dengan malas dari duduknya dan membuka pintu kamarnya. “Ada apa, Min—”

Kalimat Chen terhenti. Ia melirik sekitar depan kamarnya. Tak ada siapa-siapa. Tak ada Minwoo, atau siapapun, atau bahkan tanda-tanda kehidupan di depan kamarnya tersebut. Alis Chen terangkat. Apa anak itu mau mengerjainya lagi? Chen berasumsi teriakan tadi hanyalah kerjaan jahil adiknya. Maka Chen pun kemudian memilih untuk menutu pintunya kembali dan mengabaikan suara Minwoo tadi.

“Aish, anak itu. Mentang-mentang sedang liburan kerjaannya hanya menggangguku, hm?” batinnya sendiri. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melesat cepat melewati Chen sebelum ia menutup pintu kamarnya secara utuh. Korden berterbangan terhembus angin malam dan kertas-kertas di atas meja belajar Chen berlarian entah kemana. Chen berdecak kesal, menutup pintunya dengan kasar dan menghampiri kertas-kertas yang berhamburan hingga ke kolong tempat tidurnya. Ia berusaha menggapai kertas tersebut dengan tangan kecilnya namun ketika ia memeriksa kertas yang dipungutnya, ia mengernyit.

Itu bukan kertas skripsinya. Dari warnanya juga ketahuan. Berwarna merah seperti undangan pernikahan. Chen membuka lipatan kertas itu dengan penasaran dan sontak membulatkan mata sipitnya. Agak tidak mengerti siapa dan apa yang mengirimkan surat itu, namun secara ajaib, Chen manggut-manggut mengerti. Membiarkan sebagian kertas skripsinya berterbangan kembali karena angin malam yang berhembus ke dalam kamarnya.

“Halloween, hm? Bukannya masih lama?”

[Zhang YiXing aka Lay]

Lay menyelesaikan baris terakhir melodi yang dimainkannya dengan khidmat. Ave Maria. Lagu kesukaannya tiap kali bergelut dengan piano. Lagu umum yang memberikan arti tersendiri terhadap dirinya. Denting terakhir bergema dan suara tepukan tangan meramaikan ruang latihan. Lay tersenyum manis dan menggaruk tengkuknya salah tingkah.

“Bravo! Bravo!” Seungho bangkit dari duduknya dan berjalan menuju atas panggung dan menepuk pundak Lay bangga. “Lomba itu masih seminggu lagi. Waktumu cukup banyak tersisa tapi sudah semahir ini. Kau memang pekerja keras, Lay-ssi.”

Lay tertawa renyah. “Ah, iya. Di rumah ada Muqin yang mengajarkanku.” Ucapnya malu-malu. Ia tak terbiasa dengan pujian, meski dirinya layak mendapatkan itu semua mengingat betapa berbakatnya Lay dalam bermain piano. Untuk itulah, ia mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di universitas musik ternama di Korea Selatan. Negara impiannya, dan semua itu terbukti sekarang.

Seungho kemudian beralih ke peserta lainnya. “Baiklah! Bubar! Silakan ke ruang latihan kalian masing-masing. Kecuali marching band, kalian akan show besok, jadi kalian diperbolehkan pulang untuk mengistirahatkan diri. Besok kumpul di sini jam sembilan! Mengerti?” perintahnya sambil menepuk-nepukan tangan memberi isyarat.

Seluruh peserta mengangguk dan kemudian bangkit menuju ruang latihan masing-masing.
Seungho meninggalkan ruangan sementara Lay masih terpaku di tempatnya. Menatap piano, benda yang paling disukainya melebihi gadis atau benda manapun. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Lay. Lay menoleh, mendapati seorang gadis dengan hoodie yang menutupi kepalanya hingga batang hidung, sehingga wajahnya tak terlihat.

“Boleh aku request?” tanyanya, tanpa basa-basi.

“Eh… i-iya, tentu saja.” Lay menjawab gugup. Ia masih terkejut melihat kedatangan gadis itu yang tiba-tiba. Siapa sih? Apa dia peserta pelatihan lomba juga?

“Mainkan aku Fur Elise.”

Lay mengernyit. Walau sebelumnya ia merasa aneh, namun ia tetap memainkan lagu itu karena ia memang sudah menguasainya. Deret terakhir Lay tak mendengar applause dari gadis itu. Maka ia pun menoleh. Betapa bingungnya ia mendapati gadis itu sudah tak berada di sana lagi. Lay menelusuri seisi ruang latihan. Gadis itu tak ada. Menghilang. Bagaimana, sih. Ia baru saja akan beranjak namun selembar kertas merah di antara partiturnya menarik perhatiannya. Ia tak tahu ada kertas seperti itu sebelumnya. Lay menyambar kertas tersebut dan membacanya. Namun lagi-lagi ia mengernyit.

“Sendirian? Benarkah?”

[Kim Minseok aka Xiumin]

“Arsene Lupin…  Arsene Lupin…”

Xiumin sibuk menelusuri isi rak buku yang sudah tak terhitung berapa kali ia perhatikan. Ia meneliti dengan seksama, namun jari dan matanya terhenti ketika ia mendapati sebuah buku yang telah lama dicarinya. The Prince Thief karya Maurice LeBlanc terjemahan Bahasa Korea cetakan keduapuluh enam. Memang itu buku kuno. Namun ia membutuhkan referensi untuk tugas Bahasa Perancis nya dan ia yakin bahwa buku novel tersebut adalah novel terjemahan Perancis. Benar-benar tepat seperti yang disarankan Taemin, sahabatnya untuk memilih referensi buku tersebut.

“Akhirnya, setelah pusing mencari di sekeliling Busan aku dapat juga buku ini. Huh!” Xiumin menjentikkan jarinya di atas buku tersebut dan tersenyum lebar.

Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju meja kasir karena urusannya di toko buku Busan itu sudah selesai dan ia masih ada seminar lain sore ini. Begitu ia sampai di meja kasir, ia mendapati seorang gadis berseragam yang ia yakin adalah pegawai toko buku tersebut. Ia langsung menyerahkan buku temuannya tadi. Pegawai itu tersenyum dan mengecek harga buku belanjaan Xiumin. Dia lalu menyerahkannya kembali kepada Xiumin.

“Ee, kembaliannya?” tanya Xiumin ragu saat gadis itu diam setelah menyerahkan belanjaannya.

Gadis itu merogoh sakunya dan menyerahkan sebuah lembaran pada Xiumin. “Ini. Terima kasih.”

Xiumin menyambarnya dan langsung menaruhnya di dompet miliknya. Namun ia tertegun ketika melirik sekilas bahwa lembaran yang diberikan penjaga kasir tadi bukanlah uang. Tapi sebuah kertas putih. Xiumin buru-buru membuka lipatan kertas itu dan menyadari bahwa itu adalah sebuah surat. Ia rasa pegawai tadi salah menyerahkan lembaran.

Xiumin menatap ke arah kasir itu lagi namun tiba-tiba pegawai kasir tadi sudah tidak ada. Xiumin mengernyit. Ia baru akan bertanya pada pegawai toko buku lainnya namun tiba-tiba seorang wanita gembul menghampirinya. “Oh, Tuan, maaf. Saya baru ke luar sebentar, jadi kasir tak ada yang jaga. Mari, barang belanjaannya?”

Xiumin mengernyit. Otaknya tiba-tiba saja bekerja. Tunggu dulu, jika wanita ini adalah seorang pegawai kasir yang sesungguhnya, maka gadis tadi…

Xiumin merasa aneh. Ia kembali memandangi kertas yang diberikan oleh gadis tadi dengan teliti, memeriksa apakah ada alamat sang gadis atau tidak. Ini penipuan. Dan Xiumin harus melaporkannya. Namun nihil. Tidak ada alamat gadis itu di sana. Yang ada justru beberapa baris kalimat undangan yang membuat alis Xiumin terangkat.

“Pulau EXO…?”

To Be Continued

Next Part : CHARACTER PROFILE EXO-K

Advertisements

2 thoughts on “Prologue 1

  1. luhan sama tao pede banget ya keke~ 😆
    terus itu pas bagian chen, lay, xiumin sukses buat aku merinding hufff mana bacanya malem2 lagi aih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s