Chapter 3

CHAOS! [Part 3]

Kwon Seuna’s POV

“YAAAA!! BANTU AKU MENYINGKIRKAN AHJUMMA-AHJUMMA INI, SETAAAAN!!”

Aku terkikik geli menatap Kyuhyun tengah diamuk para ahjumma yang nampaknya adalah penggemar fanatiknya. Omona, berarti Cho Kyuhyun itu benar-benar seterkenal ini rupanya. Naega mollagesseo. Normalnya seseorang pasti akan membantunya ke luar dari kerumunan itu. Tapi, senang juga melihat namja itu menderita karena para ahjumma yang masih mencabik-cabik dirinya. Wajahnya terlihat lucu. Jadi, biarkan sajalah.

“Ya! Seuna-ah! Malhaebwa, kenapa kau bersama Kyuhyun-ku? Wae!?” Nam Taerin tiba-tiba mengguncang-guncangkan pundakku dan bertanya penasaran. Mwo? Kyuhyun’ku’? Omona, menjijikkan sekali mendengar kalimat itu. Aku menepis tangannya acuh, masih asyik mengamati penderitaan si setan itu.

“Yaa! Seuna-ah!”

“Aiish. Naui Abeoji mengenal keluarganya. Katanya dia ditinggal orangtua dan noonanya untuk sementara, jadi dia dititipkan di rumahku! Arra?” aku membalasnya asal. Nam Taerin ini benar-benar mengganggu.

Dia terdiam sebentar, mencerna kata-kataku. “Geurom, kau satu tinggal atap dengannya!?”

O-mo-na. Aku-salah-bicara. Ralat. Aku-tidak-sengaja-bicara-yang-sebenarnya. Aku menganga lebar-lebar dan memelototkan mataku. Astaga—sudah berapa kali aku bicara astaga—aku tidak bisa membayangkan pikiran-pikiran aneh yang memenuhi isi kepala Taerin ketika mendengar kenyataan bahwa kami—aku dan Kyuhyun—ternyata tinggal satu atap. Si Yadong itu pasti memikirkan yang tidak-tidak.

Aku berusaha terlihat cuek dan menyembunyikan kegugupanku karena keceplosan tadi. Aku langsung menoleh ke arah Taerin dan memasang wajah super-menyeramkanku demi membuatnya takut.

“Kau bocorkan rahasia ini, maka kupastikan kepalamu kupenggal di pemotongan daging Pasar Gangnam.”

Dia bergidik dan menelan ludah kecutnya. Aku lantas kembali fokus memandangi namja itu yang tengah diamuk—chamkkaman. Tempatnya berada tadi telah kosong. Kursi-kursi berantakan dan aku tak dapat menemukan di mana dirinya berada, beserta para ahjumma fanatik tadi. Aku berani bertaruh pastilah namja itu berhasil kabur ke luar dan sedang berlomba marathon dengan para ahjumma tadi.

Aku keluar dari tempat persembunyianku—di bawah etalase kasir—dan merapikan pakaianku yang lusuh karena sempat ikut teramuk ahjummadeul tadi. Nam Taerin juga demikian. Seungjo kembali ke belakang dapur ketika suara yang kukenal adalah suara Tuan Byun memanggilnya dari sana. Aku baru saja akan berjalan menuju salah satu kursi pelanggan di sana, namun Taerin tiba-tiba berdiri di hadapanku dengan wajahnya yang diberani-beranikan.

“Jelaskan semua yang terjadi, akan kutraktir kau makan sepuasnya.”

Sial. Itu tawaran yang sulit kutolak.

Cho Kyuhyun’s POV

Aku berbelok dengan manuver luar biasa menuju sebuah gang kecil di mana kurasa akan membebaskanku dari kerumunan ahjumma gila itu untuk sementara waktu. Dan yah, sedetik aku bersembunyi, kulihat mereka melewati gang tempatku berada sambil masih meneriaki namaku. Aku menghela napas berat. Syukurlah aku sudah lepas dari siksa neraka jahanam tadi. Ini semua gara-gara yeoja setan itu! Dan siapa yeoja yang berteriak di sebelah namja yang dipanggil Seuna bernama Seungjo tadi? Nam Taerinnie? Ya siapa itulah mau Taerinnie mau Tini Wini Biti Imut Enak Sekali, terserah.

Lihat kondisiku. Bajuku penuh luka cakaran di sana sini. Kacamata hitamku jatuh saat berlarian dikejar ahjumma tadi. Maskerku, kurasa sudah berubah menjadi sebuah lap kotor karena terus dibuka paksa oleh… siapa lagi, ahjummadeul sialan tadi! Bagaimana caranya agar aku pulang dengan penyamaran sempurna? Penampilanku bahkan tak lebih dari pemungut sampah di pertigaan lampu merah. Aku benar-benar kumal. Iish, pulang ke rumah nanti aku akan memberi perhitungan dengan Kwon Seuna itu! Mana tadi belum sempat makan di kedai neraka tadi. Semua penderitaanku bersumber dari si yeoja setan! Iiikkh! Seumur hidup aku belum pernah merasa menderita karena telah dikerjai oleh seorang yeoja. Energiku sudah terkuras habis dan rasanya aku akan benar-benar mati kali ini.

Aku mengeluarkan ponsel android dari dalam kantung celanaku. Syukurlah masih baik-baik saja. Ini harapan hidup terakhirku. Aku segera mengirim pesan ke pembantu rumahku agar mengambil mobilku yang masih terparkir di depan kedai tadi dan segera menjemputku untuk pulang ke rumah si Kwon Seuna. Kenapa tidak pulang ke rumahku saja? Aku juga maunya begitu. Tapi masalahnya seluruh pembantu rumahku sedang diliburkan Abeoji sehingga rumahku kosong melompong dan hanya pembantu ini—kalau tidak salah namanya Hwang Ahjussi—yang kutahu nomor teleponnya dan masih dapat dihubungi meski sedang libur bersama *?* Aku benar-benar tidak tahu kenapa Abeoji bersikeras agar aku dititipkan di rumah orang yang bahkan tak kukenali itu. Keluarga Kwon. Aku bahkan tidak tahu Abeoji memiliki relasi dengan keluarga itu.

Beberapa menit kemudian, deru mobil yang kukenal terdengar dan begitu aku meno, Hwang Ahjussi sudah berada di kabin kemudi mobilku dan menyuruhku masuk. Aah, Ahjussi yang baik~

“Aigoo, apa yang terjadi pada Anda, Cho Kyuhyun-nim?” beliau bertanya terkejut. Yeah, mungkin terkejut melihat penampilanku yang amburadul.

Aku masuk ke dalam mobil dan melengos. “Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Ahjussi. Cepat kita ke perumahan Gangnam blok 2. Aku harus merapikan image ku yang sebelumnya hancur berceceran di mana-mana.” Ujarku dramatis.

Hah. Kwon Seuna. Mati kau di rumah nanti.

Aku menjeblak pintu rumah dengan kesal setelah berterima kasih atas antaran cuma-cuma Hwang Ahjussi yang telah pulang barusan. Aku hendak berlari menuju lantai dua, kamarku, namun tiba-tiba saja aku mendapati bahwa si Kwon Seuna itu, aish, maksudku si yeoja setan itu, sedang duduk bersantai di atas sofa ruang tengah, menyalakan televisi keras-keras yang sedang menampilkan tayangan komedi KBS, ditemani dengan tiga bungkus besar keripik kentang di tangannya. Sesekali dia tertawa keras-keras karena lelucon garing Lee Hyukjae—bukan, bukan Lee Monyet-hyung itu, ini Lee Hyukjae sungguhan—yang terdengar bagai tawa dinosaurus atau godzilla di telingaku.

Astaganagabonarjadiduaribuduabelasudahkiamat.

Aku menghampirinya dan langsung merebut keripik kentang di tangannya dan membuangnya asal ke lantai. Ia mendongak, dan menatapku super datar. Seolah eh-kau-sudah-pulang-bagaimana-main-kejar-kejarannya-tadi? Sialan.

“Ya.” Ucapku dengan death glare andalanku. Ia mendelik. “Puas telah mengerjaiku?”

Ia membenarkan posisi duduknya. “Kenapa kau menambahkan kata ‘puas’? Rasanya seolah aku sengaja melakukan itu padamu.” Ucapnya dengan wajah tanpa dosa. Aigoo! Dia benar-benar setan!

“Neo…” aku mengepalkan tanganku kuat-kuat menahan emosi. Kalau saja dia bukan seorang yeoja, sudah kupastikan dia kumutilasi menjadi seratus bagian! Tiba-tiba sebuah ide tercetus di otakku, membuatku sontak menyeringai lebar. Astaga, Cho Kyuhyun, kau bukan hanya tampan, namun juga cerdas hm?

Aku duduk di sampingnya dan segera tersenyum semanis-manisnya—sumpah demi apapun dalam hati aku menahan agar tidak muntah karena jijik memberikan senyum pada yeoja ini. Seuna langsung mengernyit menatap tingkahku. “Seuna-ssi, kau tahu betapa menderitanya aku tadi?”

Dia mundur sesenti karena bingung dengan perubahan sikapku. Sebaliknya aku mendekatkan posisi dudukku ke arahnya. “W-waegeurae?”

Hahaha. Wajahnya kini berubah ketakutan. “Yaa~ aku kelelahan tadi. Aku juga belum makan dari lima jam yang lalu. Kau benar-benar kejam~”

Baik. Aku yang mencetuskan ide yang ‘agak’ yadong ini tapi aku sendiri yang berusaha menahan tawa karena terlanjur jijik dengan wajah ketakutannya.

“Hyaa! Itu bukan urusanku! Pergi sana, menjauuh!!” elaknya namun aku masih bergeming. Bahkan semakin mendekatkan diriku ke arahnya. Ia mendadak speechless saat posisi kami hanya tinggal berjarak beberapa senti. Wajahnya mundur ke belakang dan ia memejamkan matanya ketakutan. Aish, lucu sekali wajahnya itu. Aku harus mati-matian menahan tawa kalau begini. Dari posisi kami yang tertahan ini, kurasa ia berpikir bahwa aku akan menciumnya. Dih! Sudi sekali mencium namja berdada *?* ini.

Aku sengaja menghembuskan napas agar membuatnya semakin tegang. Omona. Rupanya dia mulai terpesona padaku, wajahnya bahkan merona merah. Aku kemudian meraih dagunya, layaknya sedang bersiap-siap untuk mencium. Dia semakin panik dan tergagap. Namun aku buru-buru menyentil dahinya sekuat tenaga.

“BAAA-BO.” Ucapku iseng dan buru-buru lari dari tempat tersebut sebelum dia mengamuk. Haha, rasakan pembalasanku! Untung juga aku berpikiran begitu, kurasa yeoja ini perlahan mulai menyukaiku. Dengar, bahkan aku yang sudah berlari dan masih bersembunyi di balik sekat ruangan tak mendengarnya berteriak kesal. Itu artinya dia pasti masih terpesona dengan ketampananku!

“HYAAA! CHO KYUHYUN, MATI KAU! APA YANG KAU LAKUKAN TADIIIII???”

Oh. Salah. Dia berteriak.

Aku hanya cengengesan di tempatku. “OMO! Fansku bertambah! Fansku bertambah! Kwon Seuna bahkan mengira aku akan menciumnya! Haha, memalukan sekali, yaa~ Mana sudi aku mencium yeoja yang jenis kelaminnya tidak jelas begitu~ hahaha!” aku berteriak asal sambil meracau tak jelas sementara terdengar derap langkah besar-besar dari Seuna. Gawat. Aku harus segera kabur ke kamarku.

“YA! SETAN! KEMMAARII KAAUUU!!”

Oops. Kerah bajuku ditarik olehnya dari belakang. Aku akan mati kali ini.

Sialan. Sialan. Sialan.

Aku baru saja menang satu langkah ketika berhasil mengerjainya tadi, namun kali ini tampaknya dia berhasil selangkah lebih maju dariku. LAGI. Dia tadi menendang pipiku hingga terjungkil dengan kemampuan taekwondonya. Ia bahkan menyebutkan bahwa dia adalah pemegak sabuk hitam dan menjuarai kejuaraan se-prefektur! Omona. Nyawaku akan berceceran ke mana-mana kalau tiap harinya dibantai yeoja sialan itu. Dan sekarang, tepatnya malam ini, aku sedang mengompres pipiku yang benjol—alias lebam total—akibat tendangannya itu. Tuhan, baru kali ini aku bertemu yeoja setan sepertinya.

“Cho Bopeeng, waktunya makan malam!” si setan tiba-tiba mengetuk pintu kamarku. Alhamdulillah, akhirnya, delapan jam berturut-turut berpuasa setelah sebelumnya penderitaan berkali-kali nemplok padaku, AKU AKHIRNYA MAKAN JUGAA~

Tapi, chamkkaman. Dia memanggilku apa? Cho… Bopeng? Aish. Terkutuklah yeoja itu.

Aku buru-buru membereskan alat kompres dan ke luar menuruni tangga menuju lantai bawah. Kali ini aku harus berusaha ekstra menahan emosiku yang hampir meledak-ledak tiap kali bertemu dengannya. Dia pemegang sabuk hitam. Bahaya. Aku? Sabuk warna-warni sepertinya.

 “Kali ini apa?” aku bertanya agak keras sambil duduk di kursi makan. Yeoja itu sedang duduk di ruang tengah, suaraku cukup terdengarlah, dan tampaknya dia sedang bermain sesuatu.

“Jjangmyeon! Kata si Nam Taerin, penggemar fanatikmu, kau suka jjangmyeon. Jadi, jangan salah paham. Itu kiriman dari Taerin, bukan buatanku.” Serunya. Baiklah, terserah, apapun itu yang penting makanan kali ini bukan sayuran.

“Di mana Tuan Kwon? Belum pulang?” sahutku ketika menyadari bahwa Tuan Kwon yang kemarin pulang jam yang sama seperti saat ini belum muncul juga.

“Abeoji meneleponku, dia akan lembur malam ini.”

Aku hanya ber’oh’ ria sambil mulai memakan jjangmyeon di hadapanku dengan lahap. Harusnya ini masih kurang mengingat jatah makan siang dan camilanku yang berkurang karena kejadian tadi siang itu.

Tapi, tak apa lah. Yang penting, jjangmyeon ini lumayan enak dan dalam porsi jumbo! Huaah.
Aku langsung membereskan mangkuk jjangmyeon-ku dan menaruhnya di dapur. Normalnya, kalau tinggal satu rumah memang harus mencuci piring makannya masing-masing. Namun aku tidak sudi! Nanti juga si Kwon Seuna itu yang akan mencucinya. Aku tidak mau image starku hancur oleh yeoja sepertinya.

Entah apa yang ada di dalam pikiranku, aku berjalan menuju ruang tengah dan menghampiri si setan itu di sana. Mungkin karena tidak ada kerjaan. Aku tak mau hanya berdiam, tidur, dan makan setiap harinya. Bisa-bisa perutku buncit. Ternyata, si setan itu tengah bermain game di laptop nya dan tampak begitu serius memainkannya. Laptopnya ia gulingkan ke sana ke mari, begitu juga dengan posisi duduknya. Aigoo, dia ini sedang bermain apa sih?

“Ya! Seuna-ssi!”

Dia bergeming. Wajarlah, aku juga begitu jika sudah fokus main game.

“Seuna-ssi!! Kau sedang bermain apa, huh? Serius sekali.” Kebiasaanku. Tidak tahan ingin bermain game ketika melihat seseorang bermain game.

“Aiish, sikkeuro! Waegeurae? Kau juga ingin bermain ini? Huh! Pemula. Kau pasti akan kalah denganku.” Ucapnya acuh sambil menyombongkan diri.

“Mwoyaa? Ya! Berikan itu padaku!” aku langsung menyambar laptopnya dengan kesal dan dia langsung mengamuk marah-marah. Kulihat layar laptopnya, hah! Game ini. Aku sudah lupa berapa kali aku memainkan game ini, keciil!

“Cho Bopeng! Kembalikaaan!!” ia berusaha meraih laptopnya namun aku langsung mengangkatnya tinggi-tinggi agar sulit ia raih. Dia berusaha meraihnya namun aku mulai menyeringai kecil. Haha, tingginya bahkan tak lebih dari leherku. Apa yang akan dia lakukan, ha? Aku menoleh ke arahnya dan mengerling.

“Kau berani mengataiku Cho Bopeng. Aku tidak terima! Kajja, ayo kita taruhan. Aku akan mengalahkanmu dalam game ini. Kalau aku menang, maka selama seminggu penuh, kau harus menjadi budakku dan aku yang berkuasa di rumah ini.” Ujarku penuh kemenangan. Dia baru saja akan protes namun aku segera menyambar. “Tapi sebaliknya kalau kau menang. Arra?”

Ia langsung terdiam dan sejenak tampak memikirkan kata-kataku. “Arra! Aku mana sudi kalah darimu!”

Hehe. You mess with the game master, Seuna-ssi.

Ini kesekian kalinya aku tertawa hingga perutku koclak. Dan ini juga kesekian kalinya yeoja itu ngedumel di pojokan dan menendang-nendang udara dengan kesal. Dia yang babo. Dan aku yang pintar. Dalam sekali level nilaiku dengannya terpaut jauh di atas. Otomatis, dia kalah. Kali ini aku berguling-guling puas di atas karpet ruang tengah, puas menertawakan si setan itu. Aku sekilas mendengar dia sedang mengata-ngataiku dengan berbagai versi kebun binatang. Aah, sudah kuduga, di balik kesusahan seperti tadi siang pasti ada kesenangan seperti malam ini.

Aku berusaha meredam tawaku yang menggelegar dan bangkit duduk menatapnya. Aigoo, bahkan air mataku hampir keluar saking hebohnya aku tertawa. Kwon Seuna masih saja ngedumel di pojokan, wajahnya mendung. Sudah kuduga, dia takkan pernah bisa mengalahkanku dalam game macam apapun.

“Aigoo~ Seuna-ssi! Kenapa masih di situ? Palli! Semenjak kau kalah, jadi aku yang berkuasa di rumah ini. Arra? Sekarang, buatkan aku cokelat panas!” perintahku masih menahan tawa.

Seuna kontan menggeleng-geleng layaknya orang gila sambil tetap menendang-nendang udara kosong di hadapannya, frustasi. “Sirreo! Sirreo! Sirreeoo!! Menyebalkan! Tuan Cho menyebalkaan!! Iish!”

Aku langsung terperanjak begitu melihat Seuna tiba-tiba bangkit dan berjalan kesal menuju dapur. Aigoo, apa yang akan dilakukan yeoja itu? Aku memutuskan untuk mengikutinya dan mendapati dirinya tengah membuka kulkas dengan biadab dan meneguk sebotol air putih dengan ganasnya! Seperti singa kelaparan. Air putih itu langsung habis dalam sekejap dan meninggalkan Seuna yang bersendawa keras sekali. Aigoo.

Botol air putih itu tiba-tiba saja terjatuh dari genggaman Seuna. Yeoja itu, kulihat sedang memegangi kepalanya dan wajahnya terlihat sayu. Ia hampir saja limbung kalau saja aku tidak segera menahan tubuhnya yang hendak terjatuh itu. Ia kini bagai orang sakau. Aku membantunya berdiri namun seketika bau alkohol yang menyengat masuk dalam lubang hidungku.

“Ya! Seuna-ssi, kau habis minum apa, hah?” aku berteriak kesal. Rupanya, yang dia minum tadi adalah sebotol soju, dan kurasa itu milik Tuan Kwon. Aigoo, bisa parah mabuknya kalau seperti ini.

Dia meracau sambil menyipitkan matanya. Tampaknya benar-benar mabuk. “Molla!” sungutnya seperti anak kecil. Aish, aku enggan mengatakan ini tapi dia lucu juga.

Aku berdecak dan memandang sekitar, tidak ada pembantu, Tuan Kwon belum pulang. Aiish, masa iya aku harus membopong yeoja ini ke kamarnya di lantai dua?

Akhirnya aku tak mempunyai pilihan lain. Aku langsung menggendong yeoja tersebut dengan susah payah dan membawanya menaiki tangga. Dalam hati aku mengumpat, yeoja ini berat sekali. Mungkin berat badannya ditambah dosa yang dia pikul jadi berat begini. Wajahnya memerah dan dirinya sesegukan. Aku menurunkannya dan menopang sebagian tubuhnya begitu sampai di depan kamarnya. Namun begitu kuputar kenop pintunya, tidak terbuka juga. Ish, dikunci. Bagaimana dia bisa masuk kalau dia sendiri sedang mabuk begini?

“Aiish, di mana kau taruh kunci kamarmu?” aku berdecak stres.

Seuna menerawang ke langit-langit dan terkekeh. “Mollaa~”

Omona. Percuma saja aku bertanya pada orang mabuk. Babo.

Aku bergantian menatap yeoja itu dan pintu kamarku. Aigoo, apa aku harus membiarkannya bermalam di kamarku? Ani, ani. Kalau begitu aku tidur di mana nantinya? Tapi, kalau saat tengah malam Tuan Kwon pulang dan mendapati putrinya sedang tidur di sofa ruang tamu karena kubiarkan, bahaya juga. Beliau pasti akan memenggalku nanti.

Akhirnya kuputuskan—dengan perang batin bermenit-menit—untuk membawa yeoja itu masuk ke dalam kamarku dan tidur di sana. Biarkan saja lah, toh masih ada sofa yang lumayan panjang di dalamnya untuk kutiduri.

Seuna bergumam tak jelas dalam mabuknya. Tampaknya ia telah tertidur. Aigoo! Harusnya kan aku yang menjadi penguasa rumah ini dan dia pembantunya, kenapa sekarang dia malah merepotkanku? Yeoja sialan.

Aku merebahkan yeoja itu di atas kasurku. Dia masih bergumam-gumam. Aku sedikit meregangkan pinggangku yang kaku. Menggendong yeoja ini sama saja memikul dua ton gajah. Walau pada kenyataannya dia tidak gendut seperti Shindong-hyung. Eh, Shindong-hyung sudah tidak gendut lagi, deng.

Aku baru saja akan merebahkan diriku di atas sofa namun samar-samar kudengar yeoja itu berbisik.

“Kim… Jong..woon…”

Mwo? Dia bilang apa barusan? Kim Jongwoon? Maksudnya Yesung-hyung?

Aku buru-buru menoleh dan menghampirinya yang masih terlelap. Menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut yeoja ini selanjutnya. “…eoddi..eumh…”

Aku langsung mengernyit total. Yeoja ini baru saja mengenalku dan Super Junior. Tapi, dia tadi menyebutkan nama Kim Jongwoon? Dari mana dia mengenal Yesung-hyung?

Sejurus kemudian aku langsung menyeringai lebar. Ooh, yeoja ini sebenarnya sudah mengetahui Super Junior dan aku, tapi dia menyembunyikannya agar dapat dikira dia belum tahu apa itu Super Junior dan membuatku penasaran, lalu akhirnya mendekatinya. Huh! Tipuan kuno! Bilang saja kalau dia ingin mendekatiku.

Aku langsung menatap wajah yeoja itu dengan senyum puas. Dia masih bergumam-gumam, namun aku tak mempedulikannya. “Huh, pintar juga kau, Nona Kwon. Berpura-pura tidak tahu siapa Super Junior agar dapat mendekatiku secara tidak langsung. Tipuan kuno!”

Yeoja itu menggeliat dalam tidurnya. Aku masih terkekeh dan hendak menyentil dahinya namun tiba-tiba saja tangan yeoja itu menarik lenganku dengan kuat hingga akhirnya aku terjatuh dan menindih tubuhnyaaa!!

Omona. Omona. O..mona.

Aku merasakan sesuatu yang basah menyapu bibirku dengan lembut dan ketika aku membuka mata, yeoja itu tepat berada di depan mataku dan tengah menempelkan bibirnya dengan bibirku! Aigoo!

Aku buru-buru bangkit dari posisi tersebut namun tangan yeoja itu menahan tanganku, dan kembali melumat bibirku walau aku yakin ia sama sekali belum berpengalaman mengenai ini. Aku terdiam. Tak membalas ciumannya—ogah—ataupun menolaknya. Aku langsung memejamkan mata kembali, bingung dan dilema. Bagaimana menolaknya, bahkan tangan yeoja itu masih meraba-raba punggungku, membuatku menegang seketika. Tubuhku kaku. Tapi, sentuhan ini… begitu lembut. Berbeda dengan sifatnya yang keras.

Ia memainkan bibirnya dengan acak-acakan di bibirku dan membuatku mencengkeram kasur kuat-kuat. Serasa dihipnotis. Aku tak dapat menolak ciumannya. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa. Ini bukan ciuman pertamaku, tapi rasanya ada yang berbeda.

Ada apa denganku?

Kwon Seuna’s POV

Aku membuka mataku dengan berat. Sinar matahari yang menyusup lewat ventilasi menyilaukan pandanganku sehingga aku masih mengerjap-ngerjapkan mata. Kepalaku terasa berat, pandanganku berkunang-kunang. Aigoo, apa yang terjadi tadi malam?

Aku meraih ponselku yang biasa kutaruh di saku celana oblongku dan menatap layarnya. Gawat, sudah lebih dari jam sembilan. Pukul berapa aku terlelap semalam? Aish, aku hanya ingat sesaat setelah aku kalah bermain game dengan si setan itu lalu pada akhirnya aku pergi ke dapur dan minum segelas… Oh sial, apa aku mabuk? Aish, sudah kuduga aku salah ambil soju milik Abeoji dan mengiranya air putih. Ini sudah keempat kalinya Abeoji lupa menyimpan sojunya sendiri di lemarinya. Ia kan tahu bahwa aku paling tidak tahan minuman keras begituan.

”Eumh,” aku meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku dan menguap sesekali.

Tapi, tunggu. Ini bukan kamarku. Ini juga bukan kamar Abeoji. Ini kamar yang khusus disediakan bagi tamu yang menginap di rumah kami yang berarti ini adalah kamar… Cho Kyuhyun.

“HUAAAAAAAAA!!!! KENAPA AKU BISA ADA DI SINI?!” aigoo! Apa aku baru saja melakukan hal yang tidak-tidak dengan si jelmaan Lucifer itu? Aku menatap pakaianku yang masih utuh dan menghela napas lega saat mendapati bahwa pakaianku masih utuh. Syukurlah! Itu berarti tadi malam saat aku mabuk, ia membawaku kemari? Tidur di sini? Babo, aku lupa kalau kamarku selalu kukunci tiap pergi ke luar. Pantas saja dia membawaku di sini. Hoo, kurasa aku telah menemukan sosok baiknya walau hanya sedikit. Aku yakin dia pasti tidur di sofa depan kasur—sebab di atas sofa tersebut ada selimut yang berantakan di atasnya. Baik sekali setan itu.

Aku menguap lagi. Setelah itu aku buru-buru bangkit dan merapikan tempat tidur Cho Kyuhyun itu. Aku langsung membuka pintu kamarnya dan merogoh saku celanaku untuk mengambil kunci pintu kamarku dan membukanya kasar. Aku lantas menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi untuk mandi.

Selesai berbenah, aku langsung turun ke lantai bawah dan menilik ke arah ruang tengah. Tadi pagi aku tidak membangunkan namja setan itu, pasti dia sudah bangun dan ke luar kamarnya, tapi kenapa dia tidak ada di ruang tengah? Ke mana si setan itu? Di dapur, ruang tamu, maupun ruang makan tak ada tanda-tanda si setan itu. Ah, masa bodohlah, dia bukan bayi yang setiap hari harus diurus dan setengah jam lagi kuliahku dimulai. Aku harus segera pergi ke kampus kalau tidak mau dicambuk Kim Sohee itu. Aku membuka pintu rumah dan menangkap sebuah mobil yang tak asing lagi bagiku terparkir manis di depan rumah. Pasti anak itu lagi, tumben sekali. Aku langsung menghampirinya setelah mengunci pintu rumah dan mendapati bahwa si bayi besar Seungjo tengah berdiri menyender di samping mobilnya sambil memainkan kunci mobil dan menyusupkan tangan kirinya di saku hoodienya. Anak itu mau bergaya, hm?

”Ya! Seungjo-ah!” seruku dan mendekatinya. Seungjo bangkit dan sontak menoleh ketika mendengar seruanku barusan. Ia kemudian tersenyum. ”Sedang apa kau di sini? Menjemputku?” tanyaku percaya diri.

Ia terkekeh. Fuh, untunglah dia sedang dalam kepribadiannya yang easy-going. ”Memangnya apa lagi?” Seungjo kemudian membuka pintu mobil depannya dan mengulurkan tangannya dengan manis. ”Silakan masuk, Tuan Puteri.”

Aku tersenyum dan buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Namja ini tiba-tiba berubah menjadi baik, kurasa ia kerasukan malaikat. Namun pikiranku tiba-tiba saja berubah ketika aku melewatinya dan mendengarnya bergumam tak jelas. ”Atau aku harus memanggilmu Puteri Setan. Kekeke.”

Sebuah jitakan pedihku langsung mendarat sempurna di kepala Seungjo sampai kepalanya berbentuk seperti penyakit hidrosepalus. 

“Appoyo, Seuna-ah!”

Cho Kyuhyun’s POV

Lupakan, Kyuhyun. Lupakan kejadian kemarin. Lupakan. Lupakan. Lupakaaan! Anggap hal kemarin tidak pernah terjadi dan kau tak pernah mengenalnya lagi.

MAU DITARUH DI MANA MUKAKUU? Kemarin yeoja itu menciumku hingga akhirnya aku tak bisa mengelaknya lagi! Kalau bukan pengaruh alkohol juga aku yakin dia mana sudi menciumku. Tapi masalahnya, kemarin aku… sempat menikmatinya. Dan…

AAARGH! Coreng kalimat tadi dari dalam fanfiction ini! Itu tidak benar! Uhm, sebenarnya benar limapuluh persen. Sisanya tidak! Eh, bukankah itu sama saja? AAA, pokoknya yeoja itu terus-terusan berlaku begitu—aku tak berani bilang bahwa dia telah men****ku, aku geli mendengarnya—dan membuatku tanpa sadar sudah tiarap di atas kasurku dan otomatis AKU TIDUR SATU RANJANG BERSAMANYA TADI MALAM.

Goblok. Untung saja aku bangun pagi-pagi tadi pagi dan menaruh selimut di atas sofa agar dikira aku tidur di sana olehnya dan untungnya—lagi—dia belum bangun dan mendapatiku tengah ketiduran satu ranjang bersamanya. Kalau tidak mungkin aku akan meminta Sparkyu untuk menguburku hidup-hidup di liang kubur. Bersentuhan dengan yeoja itu saja aku sudah jijik apalagi sampai harus berciuman? Hina!

Aku mengacak-acak rambutku frustasi dan terus menggerutu hingga beberapa orang yang berlalu lalang di lobi gedung SM memandangiku keheranan. Biar saja. Aku tak peduli. Aku terus mengoceh dan merutuki diriku sendiri sampai tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku.

“Lho, Kyuhyun-ah?”

Aku mendongak, dan mendapati Yesung-hyung sedang berdiri di hadapanku sambil memasukkan tangannya di saku celana dan tangannya yang lain memegang gelas kopi. Ia kemudian mengambil tempat duduk di sampingku dan menghela napas.

“Hyung, sedang apa di sini?” tanyaku.

“Mm, menikmati masa-masa sebelum wajib militer.” Jawabnya santai. Ia kemudian menoleh ke arahku. “Kau sendiri? Kenapa kemari?”

Aku terdiam. Benar juga, untuk apa aku datang ke kantor SM? Sebenarnya, ini hanyalah sebuah pelarian dari kejadian bersama Seuna tadi malam. Aku tak tahu lagi harus pergi ke mana. Gedung inilah tempat satu-satunya yang terpikir olehku. “Molla, aku hanya sedang ingin di sini.” Jawabku asal.

“Hmm.” Yesung-hyung bergumam menanggapi. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kehidupanmu di rumah sementaramu itu? Baik-baik saja kah?”

Deg. Omona, tak adakah topik yang mengungkit selain masalah Seuna tiap kali orang bertemu denganku?

“Emm, yah. Begitulah.” Jawabku, berbohong. Ragu-ragu juga sih sebenarnya, daripada nanti Yesung-hyung bertanya tambah jauh lagi. Dia kan bawel.

“Bagaimana dengan anaknya? Apa kalian berteman baik? Aku hanya khawatir anak kerabat Tuan Cho itu disiksa oleh evil sepertimu. Hehehe.” Yesung-hyung terkekeh, membuatku ingin menggamparnya ke kutub selatan. Sial, kenapa dia malah bertanya lebih jauh lagi? Aishi, apa yang harus kukatakan?

Aku menggaruk tengkukku canggung, “Ah? Ee-eh, ya, begitulah. Kami… eum, berteman baik.”

Sudahlah, Hyung, sehabis ini alihkan topik pembicaraan!

“Jinjja? Ah, uri Kyuhyun sudah punya teman baru. Apa dia yeoja ya? Namja ya?”

Aiiiishh, somebody help meeeh!!

“Y-yeoja ya…” Babo! Kenapa malah bilang yang sesungguhnya! Kyuhyun babo! Kalau Yesung-hyung tahu pasti aku akan diledeki habis-habisan! Kenapa aku tidak membantah saja sih!!

Tuh kan. Raut wajah Yesung-hyung seketika berubah cerah. Ia ternyum lebar dan menjijikkan sambil menatapku antusias. “Jinjja?! Jinjja? Wah! Bahaya! Bahaya~! Kyuhyunnie, kalian tidak melakukan apa-apa, kan? Kalian tidak sering berduaan di kamar, kan? Lalu lalu, kalian sudah sampai sejauh mana?! Aigoo! Aigoo—”

“YAAA!!!! YA ENGGAK LAH, HYUNG!! MALDO ANDWAE!” aku berteriak keras tepat di depan telinganya sampai ia mundur ke belakang dan menutup kedua telinganya rapat-rapat. Hyung ini gila! Baru menjelaskan aku tinggal satu atap bersama yeoja saja dia sudah heboh begini. Apalagi jika aku ceritakan kejadian semalam kepada Yesung-hyung!

“Aiishi, Kyunnie, jangan berteriak padaku!” sungut Yesung-hyung kesal. Dasar! Lagipula sudah seenaknya ambil keputusan tanpa tahu kronologinya dahulu! Aku bertumpu tangan kesal dan membuang muka dari Yesung-hyung. “Geurom, geurom, kalau aku boleh tahu, siapa nama yeoja itu?”

Omo. Aku ingin sekali membuang Yesung-hyung ke laut. Tapi aku belum mau mati muda digerogoti Clouds. Eohttokke? Aku memutar bola mataku menimang-nimang. Omona, haruskah aku memberitahu Yesung-hyung nama yeoja setan itu? Sekedar namanya ini tidak masalah deng, toh Yesung-hyung juga tidak akan tahu yang mana orangnya ini.

“Kyu?” panggil Yesung-hyung.

“Umm, namanya… Kwon Seuna.” Ucapku pada akhirnya.

Aku menunggu sedetik. Dua detik. Tiga dan seterusnya. Aku pikir akan ada reaksi luar biasa dari Yesung-hyung dan seperti biasanya pasti dia akan memelukku tiba-tiba. Tapi kali ini aku tak mendengar suara Yesung-hyung lagi. Aku menolehkan kepalaku menghadap Yesung-hyung. Dan betapa herannya aku mendapati Yesung-hyung tengah mematung di tempatnya. Tampak tak bereaksi atau tepatnya benar-benar terkejut. Mata sipitnya melebar dan baru kali ini aku melihatnya begitu cepat berubah ekspresi.

Aku memandangnya khawatir. “Hyung? Hyung? Waegeurae?”

Terlalu! Ucapanku diabaikannya! Yesung-hyung ini kenapa?

“Ya! Hyung!!” sentakku mulai kesal.

Yesung-hyung mulai tak bekerja otaknya—mungkin. Ia tetap terpaku, seolah terkejut luar biasa mendengarku menyebut nama Kwon Seuna. Ada apa ini sebenarnya? Yesung-hyung menatapku dengan pandangannya yang… kosong.

“K-Kwon… Seuna?”

To Be Continued

Kyuhyun: Hyung? Hyung! Hyung!!

Seuna: Yesung-ssi kenapa dia?? Ya!!

Yesung: o.O~

Kyuhyun: YAAA!! YESUNG-HYUNG KESURUPAAN!! AIGOO! EOHTOKKAE!? EOOOH??

Yesung: -_____-“”

Okeh! Sengaja dibikin sedikit untuk part ini, cuman buat jembatan penghantar ke konflik sesungguhnya! Hahaha!

Dan untuk ide cerita sudah saya tetapkan, cuman ke belakangnya genre bakal berganti. Ganti apa? Jenis kelamin? Mau tau aja xP

Pokoknya siap-siap buat perubahan genre ini ya. Huahahaha!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s