Chapter 1

CHAOS! [Part 1]

Cho Kyuhyun’s POV

Sharp Star Building, 12th Floor, Seoul, SK

July 30th 2012 [02.40 pm]

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Malas mendengar nyanyian si Monyet yang terdengar bagai guntur di siang hari di telingaku. Si kembung menarik-narik ujung kakiku agar ikut serta. Kalau saja dia bukan hyung-ku, pasti akan kutendang kepalanya yang persis di bawah kakiku itu. Kepalaku merangsek memeluk guling di kasur sementara mereka berdelapan—hyungdeulku—masih saja ramai di luar sana. Terdengar jeritan melengking dari Yesung-hyung. Lalu Shindong-hyung bernyanyi tak jelas. Lagu Jay Park Know Your Name yang seharusnya terdengar bagus itu justru berakhir mengenaskan di pita suara mereka.

Akhir-akhir ini member Super Junior banyak mengadakan pesta kecil-kecilan begini. Katanya sebagai ucapan perpisahan pada Leeteuk-hyung dan Yesung-hyung yang sebentar lagi wamil. Baguslah, aku berdoa semoga aku yang menjadi leader nya agar bisa menyiksa hyungdeulku itu.

“Kyu! Kemarilah, kenapa mengurung diri di kamar?” Siwon-hyung berteriak dengan mikrofon di tangannya.

“Mungkin Kyuhyun sedang datang bulan. Dari tadi siang mood-nya hancur begitu.” Sialan. Seenaknya saja si monyet berasumsi aku sedang datang bulan.

“Yaa! Ada apa, Kyu? Waeguraeyo?” aku masih dapat terima pertanyaan lembut dari Leeteuk-hyung yang menghampiriku. Diikuti oleh kedelapan member yang langsung menjebol pintu kamarku seperti diamuk massa. Mereka semua mengelilingiku dan memasang wajah ada-apa-mengganggu-pesta-saja-sih nya.

Aku terduduk dari tidurku dan menundukkan kepala malas, menghadap Leeteuk-hyung. “Apa setelah goodbye stage ini, kalian akan meninggalkan dorm?” suaraku yang lemah ini pasti membuat mereka iba. Dan ya, benar. Ryeowook-hyung langsung menatapku khawatir. Hah! Tahu begini aku harus mendaftar menjadi aktor saja ya.

“Rencananya setelah ini aku dan Yesung akan wamil, kau tahu, kan? Setelah itu, kalian akan vakum, tentu saja tanpa kami—aku dan Yesung. Sebagian besar member akan pulang ke kampung halaman atau lebih tepatnya meninggalkan dorm. Wae? Kau mau tetap tinggal?” Leeteuk-hyung menerangkan. Ah, mirisnya keadaanku.

“Apa tidak ada yang tinggal?” aku bertanya lagi. Kali ini dengan puppy eyes yang aku bahkan ingin muntah saat berencana melakukannya.

“Donghae tetap tinggal. Tapi mendengarmu tak pulang ke Nowon dan itu artinya kalian akan tinggal bersama, Donghae-hyung tidak jadi dan memilih untuk pulang ke Mokpo. Kurasa ia tidak mau tinggal berdua denganmu di dorm.” Si monyet menatap si kembung jahil. Sialan. Artinya mereka tak ada yang mau tinggal di dorm berdua denganku? Kentut.

“Wae? Kenapa bertanya begitu? Ada masalah?” nah. Itu pertanyaan yang pas untuk menjelaskan semuanya. Gomawo, Ryeowook-hyung, kau memang bisa menusuk pikiranku.

Aku menunduk, “Ahra-noona akan pergi.” Itu saja permasalahan yang membuatku daritadi siang galau. Singkat. Namun dapat membuat si monyet itu berteriak histeris seperti sedang berada di hutan. Yeah, monyet kesurupan.

“Pergi ke mana!? Apa ajal sudah menjemputnya? Omo! Aku bisa gi—”

Pletak!

Kalau boleh lebih, aku ingin menyumpal mulutnya dengan kepala si ikan itu. Bisa-bisanya dia bilang begitu. Mau bilang bahwa Ahra-noona sudah meninggal? Babo gateun.

“Iish, appo! Kalau begitu Ahra mau ke mana?” si Monyet bertanya, masih tetap mengelus puncak kepalanya yang baru saja kutabok.

“Dia mau mencari kerja di Amerika. Lalu katanya… katanya dia akan menikah dengan kenalannya di sana dan tinggal di Amerikaa!” aku berteriak merajuk. Namun entah kenapa si monyet ikut-ikutan berteriak histeris sepertiku.

“Menikah!? Andwae! Andwae! Kalau begitu aku dengan siapaa??” Hyuk masih saja berteriak dan menjambaki rambutnya. Michyeo. Aku kan adiknya. Kenapa justru dia yang histeris?

“Dengan Ddangkoma saja sana!” aku melemparnya dengan pot bunga—ralat. Di sekitarku tak ada pot bunga.
Inilah masalahnya. Goodbye stage SuJu selama lima bulan ke depan membuat semua member pulang ke rumah masing-masing. Sementara aku tahu di rumah pasti sepi, sebab kedua orangtuaku sedang dinas ke Cina selama dua bulan—aku tahu mereka pasti ingin nonton konser EXO-M itu. Dan Ahra-noona hendak kerja di Amerika. Lantas aku dengan siapa!? Ratapan anak tiri.

“Lalu kau sendirian di rumah?” Leeteuk-hyung bertanya. Aku terdiam sebentar. Berpikir.

“Tadinya begitu, kupikir. Tapi ternyata Abeoji sudah berpesan duluan pada Ahra-noona untuk menitipkanku di rumah teman Abeoji. Dikira aku barang bekas, seenaknya dititipkan.” Gerutuku setelah berhasil mengingat kenyataan bahwa ternyata Abeoji berpikiran untuk menitipkanku di rumah temannya!

Okelah, aku bisa tinggal sendiri. Toh pembantuku ada selusin. Tapi kenapa musti dititipkan? Tidak tahu, ya, aku ini Cho-Kyu-hyun! Jika itu terjadi maka aku akan masuk berita di majalah dengan headline utama dan font size besar ‘Ditinggal Keluarga Pergi, Super Junior Kyuhyun Dititipkan di Rumah Orang Lain’. Dunia sudah mau kiamat.

“Bagus, kan? Ada yang mengurusmu kalau begitu!” timpal Yesung-hyung.

“Yaa! Bagus apanya? Aku sudah 25 tahun! Kalau aku masih 8 tahun sih, tak apa dititipkan!”

“Tapi lebih baik daripada kau sendirian di rumah. Tidakkah kau ingat kejadian tiga tahun lalu ketika Ahra-noona kuliah di luar negeri dan kau tak ada yang mengurus hingga seperti sapi liar yang lepas dari peternakan?”
Oh baiklah. Itu memang benar. Tapi Siwon-hyung juga tak perlu menyamakanku dengan sapi liar yang lepas dari peternakan, kan?

“Kebebasanku akan direnggut sebentar lagi…” lirihku lemas. Kalau di rumah setidaknya kan aku bebas menguasai bangunan sebesar itu seorang diri. Aku tidak bisa tinggal dengan orang lain karena pasti akan membutuhkan sopan santun—aku tidak terbiasa dengan sopan santun.

“Ya! Kyunnie, kalau di rumah sementaramu nanti kau bertemu yeoja cantik jangan lupa menghubungiku, ya.” Si kembung menaikkan alisnya ke atas dan ke bawah sambil menunjukkan matanya yang berbinar-binar. Sementara aku berusaha memasang image ‘Creeper Kyu’ ku untuk membuat wajahnya tertekuk, dan hal itu langsung terjadi. HAHAHA.

Tiba-tiba dering ponselku terdengar dari saku celanaku. Aku segera merogohnya malas dan menekan tombol hijau pada dialnya. “Yoboseyo?”

“Yoboseyo, Kyunnie? Neo odiseo?” ah. Itu dia Ahra-noona. Kebetulan yang tidak mengenakkan.

“Aku di dorm. Wae? Apa sudah mau pergi?” aku bertanya sengit, sedikit menggerutu.

“Ne. Bisakah kau segera ke sini? Jadwal keberangkatanku masih tiga jam lagi jadi aku ingin mengantarmu pada kerabat Abeoji itu.” Aku langsung cemberut. Hyuk yang menguping langsung heboh dalam diam mendengarnya. Aku segera bangkit dari dudukku dan menyingkir dari para hyungku menuju balkon apartemen.

“Ne. Arraseo, aku pulang setengah jam lagi.”

Aku mematikan ponselku dan menghela napas panjang. Haah. Ini adalah awal dari hari sialku.

Gangnam, Seoul 03.20 p

Ahra noona menyeret-nyeret tanganku setelah turun dari mobilnya. Ini daerah sekitar Gangnam. Aku tidak tahu persisnya tapi tempat ini tandus sekali. Seperti perumahan tanpa pohon. Dia membawaku masuk ke dalam sebuah rumah terpojok di perumahan ini. Yaah, cukup bagus. Setidaknya taman kecil di halamannya menghilangkan kesan tandus itu.

Ahra noona sudah berada di depan pintu sementara aku membawa dua koper di tanganku. Tentu saja aku tidak memakai penyamaran. Ini kan perumahan. Jelas saja sepi. Ah, bagaimana kehidupanku di sini selama dua bulan ke depan, ya? Apa ahjussi ini punya anak? Kalau namja sih tak apa. Kalau yeoja? Tidak apa juga.

“Ahjussiii! Kwon ahjussii! Kami datang!” Ahra noona berteriak nyaring. Ish. Rumah ini memang bagus tapi sayangnya tidak punya bel masuk, kurasa.

Sedetik kemudian pintu rumah dibuka oleh seseorang. Yang kurasa adalah ahjussi ta—oh pikiranku salah. Yang membukanya adalah seorang yeoja. Yeoja itu memakai T-shirt kedodoran dengan jeans sepaha yang belel di mana-mana. Rambutnya yang lurus sebahu itu dibiarkan acak-acakan seperti orang gila. Apa-apaan sih penampilannya.

Dia menyambut kami bingung, “Oh. Kalian… siapa?”

Gubrak.

Yah, kurasa Ahra noona salah masuk rumah dan lupa di mana rumah ahjussi itu sehingga aku tidak perlu jadi dititipkan. Yeay! Ehm.

“Ini rumah Tuan Kwon, bukan? Ahra imnida. Aku sudah bilang pada Kwon ahjuss—”

“OH!” yeoja itu langsung menyerobot kalimat Ahra noona. Ish. Apaan sih. Mana suaranya gede gitu. “Ah, ya. Abeoji bilang nanti yeoja bernama Ahra itu mau menitipkan seseorang di rumah kami, hm? Nuguya?” omona omona. Lihat gayanya. Tengik. Seperti preman pasar inpres. Kurasa gayanya lebih tengil daripada itu walau dia tak memakai anting-anting dan tatto. Dia itu siapa sih? Pembantu rumah ini? Tapi tadi dia bilang ‘abeoji’, itu siapa?
Ahra noona tersenyum. Bah! Masih bisa senyum juga dia dengan si preman ini. Ahra noona kemudian merangkul pundakku. “Ini, namdongsaengku, Cho Kyuhyun. Kau pasti mengenalnya kan?” Ahra noona mengenalkanku. Percaya diri sekali.

Yeoja preman itu memandangiku tanpa berkedip. Dari atas hingga bawah, lalu dari bawah hingga atas. Ayolah, aku tahu aku tampan. Bahkan yeoja ini saja terperangah melihat ketampananku… “NUGUYA?”

Gubrak lagi.

Dia bilang apa tadi? Nugu? ‘NUGUYA’? Ya! Hidup di zaman apa yeoja ini hah?! Masa dia tidak tahu bintang bersinar sepertiku di dunia ini? Aku membulatkan mata begitu juga dengan mulutku lebar-lebar.
Ahra noona buru-buru menjelaskan begitu melihat keterkejutanku. “Pokoknya, dia akan tinggal di sini selama dua bulan ke depan, sampai orangtua kami kembali dari Cina. Sekarang, apa Kwon ahjussi ada?”

Yeoja tengik itu melengos dan menggaruk tengkuknya letoy. “Abeoji sedang kerja hari ini. Biasanya pulang malam hari.”

Tunggu. Ada suatu pencerahan yang dapat kutangkap dari kalimatnya. Kata Ahra noona, Kwon ahjussi siapa lah itu adalah ahjussi yang akan menampungku tinggal. Lalu yeoja tengik ini bilang Kwon ahjussi adalah ‘abeoji’? Abeojinya? Dan dia anaknya?! Aku bisa membayangkan dari anaknya yang ketus dan tengil ini, abeoji-nya pasti akan lebih tengil dari ini. Membayangkan itu membuatku ngeri.

“Wah, kalau begitu, mungkin Kyuhyun akan diantar olehmu saja, ya. Kau Kwon Seuna, kan? Putri dari Kwon ahjussi?” Ahra noona menepuk tangannya antusias. Ooh, itu namanya. Kwon Seuna. Bagus, sih. Tapi aku langsung menarik kalimatku tadi begitu melihat dandanannya yang urakan.

“Ye. Terserah sajalah.” Jawaban macam apa itu! Hih!

Ahra noona kemudian menghadapku dan menepuk kedua bahuku. “Nah, Kyunnie. Kau baik-baik di sini, ya. Jangan buat ulah. Noona harus segera ke bandara untuk check in.”

“Apa aku tidak boleh ikut mengantar ke bandara?” tanyaku miris.

“Aniya. Takutnya kau akan segera melupakan jalan menuju kemari, jadi kuantar dulu kau ke sini. Aku sudah menghubungi Hyukjae untuk menemaniku ke bandara. Kau istirahat saja di sini. Noona akan meneleponmu kalau sudah mau take off.” Jelas Ahra noona tersenyum.

Monyet sialan. Beraninya dia mengambil kesempatan ini untuk bertemu Ahra noona. Bahkan aku yang merupakan namdongsaeng nya tak bisa menemani ke bandara. Tapi dia? Enak sekali. Awas saja kau Hyuk!

“Arrayo. Aku pergi dulu. Sampai jumpa, Kyunnie!” Ahra noona mencium pipiku cepat dan langsung berbalik menuju pagar. Namun tak lama ia berbalik lagi ke arahku. “Matta. Seuna-ssi. Tolong antar Kyuhyun ke kamarnya, ya. Kumohon jaga dia baik-baik. Dia agak bandel. Jebalyo!”

Cih. Minta tolong begituan. Pakai mengataiku bandel pula. Yang bandel itu justru yeoja bernama Seuna ini, sepertinya. Ahra noona masuk ke dalam mobil dan memacunya secepat kilat. Aigoo, aku harus berpisah dengan Ahra noona selama bertahun-tahun. Itu sudah biasa, sebenarnya. Tapi kali ini aku harus tinggal di rumah orang lain? Otak orangtuaku tuh di mana sih?

Aku berbalik menghadap si Kwon Seuna itu lagi. Dia hanya berkacak pinggang dan menatapku jutek. Aku benci tatapannya itu. “Mau sampai kapan berdiri di situ? Sampai kiamat?” aigoo, ingin kujambak rambutnya itu! Aish. Tapi harus kutahan kuat-kuat. Aku harus jaga image.

Aku memaksakan diri untuk mengulas sebuah senyuman. “Ani. Bisa kita masuk ke dalam? Kurasa kakiku mulai kesemutan.” Meski begitu, kurasa ada kilatan listrik menyala-nyala di antara tatapan kami. Yeah, dia menatapku dengan tajam.

Dia langsung melengos pergi ke dalam, tanpa membawakan koperku! Oh. Aku lupa ini bukan di hotel. Dia berhenti di teras rumahnya dan menatapku yang sedang menyeret koper-koperku ke dalam. “Ikuti aku.” Lalu masuk lagi tanpa banyak bicara.

Rumah Tuan Kwon ini tak dapat kubilang jelek. Yaa, baguslah. Menanamkan warna cokelat dan krem di seluruh ruangan. Terasa sejuk. Ia menaiki tangga dan aku mengikutinya. Tepat di samping tangga itu dia berhenti di sebuah pintu yang kutahu pasti itu calon kamarku.

“Ini kamarmu. Kamarku ada tepat di depan kamarmu. Panggil saja kalau butuh sesuatu. Tapi jangan meminta yang aneh-aneh, ya. Aku sibuk.” Kalimat terakhirnya sangat mengganggu. Ia kemudian berjalan ke ruangan depan kamarku, membukanya, lalu menjeblaknya dengan kasar. Ya! Apa-apaan sikapnya itu! Kasar sekali!

Aku kemudian membuka pintu kamarku dan memasukkan dua koperku ke dalamnya. Ruangannya tak jauh beda dengan kamarku di rumah. Hanya saja interiornya lebih minimalis. Membuat siapa saja yang tinggal di kamar ini betah berlama-lama di sini. Aku menjatuhkan diriku di atas kasur dan kembali memikirkan Ahra noona. Pasti saat ini si Monyet sedang asyik berduaan dengan noonaku! Andwae!

Ah. Bertahan di sini selama dua bulan, itu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bagaimana kalau saat aku main PSP ada Tuan Kwon yang mengganggu? Kalau aku membentak itu tidak sopan namanya. Tapi kalau aku tidak main seharipun… waakh! Bagaimana aku bisa bertahan hidup?

Oh, iya. Daritadi sejak di dorm aku mogok makan karena mengetahui Ahra noona akan pergi. Tapi toh dia sudah pergi. Apa gunanya aku terus mogok makan? Mati kelaparan iya. Aku pun segera bangkit dan membuka pintu kamar, bermaksud mengetuk pintu kamar si Kwon Seuna itu agar membuatkanku makanan.

“Ya! Kwon Seuna-ssi! Kwon Seuna-ssi!” panggilku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya yang… begitu penuh dengan stiker kartun Jepang ninja itu. Apa namanya? Naruto. Ah, ya. Terlebih tokoh yang namanya Sasuke itu, stikernya bertebaran di mana-mana.

Sempat terdengar suara gaduh dari dalam sana dan itu membuatku bingung, apa baru saja terjadi gempa di area tertentu? Ia lalu buru-buru membuka pintu dan menyebulkan kepalanya dari balik pintu kamarnya. Aku terperangah melihat penampilannya yang terlihat seperti korban angin topan! Yeoja ini, sama sekali tak mempedulikan penampilannya apa?

“Ada perlu apa?” ia bertanya singkat.

Aku memasang wajah tanpa dosa. “Aku lapar.”

Ia menaikkan alisnya, tampak acuh, “Lalu?”

Yeoja ini babo atau bagaimana sih. “Apa ada makanan? Atau kau boleh membuatkanku makanan.”

Dia menatapku dengan pandangan hah-tidak-salah-kau-ini-penghuni-baru-jangan-macam-macam nya. Yaiks. Kalau keadaan berbalik, dia yang menumpang di rumahku, akan kutabok kencang-kencang pantatnya. “Hanya ada ramen. Apa kau tak bisa memasak, Tuan Cho Kyuhyun?” astaga. Yeoja ini sengaja memancingku untuk membuatku mengumbar aibku tentang memasak ramen.

Aku tersenyum sinis. Yeoja yang tidak baik harus diperlakukan tidak baik juga. “Hmm. Aku harap kau adalah salah seorang ELF yang sudah membaca beberapa fakta tentang Super Junior khususnya ‘aku’ yang tak bisa… eum..memasak ramen.”

Dia mengernyitkan alisnya. “Super Junior? Apa itu?” dia bertanya, dengan wajah tanpa dosa! Dia berkata begitu sengaja atau untuk menjebakku sih? Jadi daritadi dia tidak ‘ngeh’ kalau aku adalah Cho Kyuhyun Super Junior?

Aku bertanya dengan mata bulat penuh. “Kau bercanda?”

“Wae? Ada yang salah?”

Entah kenapa wajahnya yang aneh itu terlihat lucu di mataku. Tanpa sadar aku membungkam mulutku menahan tawa. Namun apa daya. Tawaku langsung jebol dari tanggulnya. “HAHAHA! Kau tak tahu apa itu Super Junior? Kau hidup di zaman apa, Nona? Zaman Jurassic? Megalitikum? Bahkan, sapi di peternakan liarpun tahu apa itu—! Oh, bukan, bukan. Sapi tak punya otak. Maksudku, halmeoni yang sudah pikun pun tahu apa itu Super Junior! Hahaha! Jangan membual!” rasanya sulit sekali meredam tawaku ini. Yeoja ini sungguh keterlaluan jika tak mengenal siapa kami!

Si Kwon Seuna itu langsung menatapku ganas. “Ya! Atas dasar apa kau menertawaiku? Lagipula aku juga tak mengenalmu, Tuan Cho Kyuhyun!”

Aku mengusap air mata yang keluar dari pelupukku karena tertawa hebat tadi dan berusaha mengendalikan tawaku. “Aigoo, mianhada. Geurom, kau benar-benar tidak tahu siapa aku? Kau ini kampungan sekali.”

“YA!! Jangan sebut aku kampungan! Kau menyebalkan!” Kwon Seuna itu langsung sewot dan mengepalkan tangannya erat. Aku hendak tertawa lagi, tapi takut dibunuh olehnya.

Si Kwon Seuna menatapku jengkel. Ekspresinya yang daritadi jutek ternyata bisa berubah seperti anak kecil juga. Aku segera mengulurkan tangan, bermaksud mengejeknya dengan berjabat tangan begini.

“Apa?” Kwon Seuna menatap tanganku ragu.

Aku menggerak-gerakkan tanganku di udara. “Kau tidak tahu aku, kan? Kajja, kenalan dulu.” Menurutku itu adalah cara yang aneh untuk mengajak seseorang berkenalan. Tapi yasudalah. Toh yeoja ini juga aneh.

“Aku tahu, aku tahu. Namamu Cho Kyuhyun.” Ia mendengus, menepis tanganku dan kembali memasang wajah jutek.

“Dan aku anggota boyband terkenal di dunia, Super Junior.” Tambahku cepat.

“Ooh. Super Junior itu sebuah boyband? Kudengar anggotanya banyak makanya kukira itu adalah tim sepak bola. Sayang sekali.” Terlihat raut kecewa di wajahnya. Aigoo, apa yeoja ini tak pernah mengikuti perkembangan musik di Korea dan lebih memilih untuk mengamati sepak bola daripada kesepuluh namja tampan seperti kami? Otak keperempuanannya ada di mana sih? Apa jangan-jangan dia yeoja jadi-jadian?

“Aku kenal Jisung Park.” Ucapku iseng. Dia langsung menoleh ke arahku dengan tatapan berbinar-binar. Namun kesan juteknya belum saja hilang.

“Sincha? Kau pernah bertemu dengannya? Kenal di mana? Antarkan aku! Aku sudah beli bola sepak khusus untuk ditandatanganinya!” tuh kan benar. Dia penggila bola. Semangat sekali. Eh, ngomong-ngomong, kami berdua baru kenal kenapa bisa langsung santai begini ya?

“Aku kenal Jisung Park. Dia pemain bola, kan? Hanya itu doang pemain bola yang kutahu.” Aku melengos malas. Kukerjai baru tahu kau.

Raut wajah Seuna yang tadinya antusias mendadak berubah jutek. “Kalau itu juga aku tahu, dasar kampungan!”

Aku menoleh cepat mendengar kata terakhirnya, “Mworagoo?! Aku kampungan? Yang lebih kampungan itu siapa, hah!?” seruku emosi. Beraninya mengatai Cho Kyuhyun Super Junior! Karma akan segera menghantuimu, Nona Kwon! HUAHAHA.

Seuna menghela napas kasar dan mengacak-acak rambutnya yang seperti singa jantan itu. “Aish. Sudahlah, jangan ribut. Kau lapar, kan? Akan kubuatkan ramen kalau begitu. Kuharap urusanku denganmu segera berakhir.” Ia langsung melengos pergi melewatiku dan turun ke lantai satu—kamar kami ada di lantai dua. Aku mengikutinya santai. Tapi dalan hati aku ragu. Yeoja ini dari luar terlihat mengerikan. Apa benar dia akan memasakkan ramen untukku?

Seuna langsung berkutat dengan alat dapurnya sementara aku menunggu di meja makan. Rumah yang cukup besar ini terlihat begitu sepi. Kurasa Tuan Kwon tidak memiliki pembantu atau semacamnya, dan anaknya hanya si yeoja jadi-jadian Kwon Seuna itu saja. Tak berapa lama kemudian Seuna datang dengan membawakan sepanci ramen panas. Dari wanginya, kelihatannya enak. Aku ragu dengan rasanya. Apa akan enak juga?

Aku langsung mengambil sumpit dan bersiap untuk makan. Tapi begitu melihat Seuna hendak beranjak pergi aku menoleh, “Ya, Seuna-ssi, mau ke mana?”

Dia menatapku datar, “Tentu saja ke kamar. Ke mana lagi?” mulutnya itu. Mungkin Heechul-hyung itu sebenarnya kakak kandung dari Seuna, kali ya. Mulutnya sama-sama pedas.

“Kemari. Temani aku makan. Dasar tuan rumah tidak sopan.” Aku mengisyaratkan tanganku agar ia duduk di sampingku dan menemaniku makan. Lebih baik begitu, daripada makan sendiri di rumah orang lain dan melongo tak jelas nantinya.

Seuna terdiam, tapi dia langsung berjalan dan menghentak-hentakkan kakinya kesal dan duduk di kursi sampingku. Aku segera mulai makan ramen buatannya. Yang ternyata… walau luarnya meragukan, tapi ramen ini enak sekali! Aku jadi heran, yeoja jadi-jadian sepertinya bagaimana bisa memasak ramen enak begini?

“Kau berpengalaman memasak juga, ya.” Ucapku di sela kunyahan ramenku.

“Ramen adalah masakan yang pertama kubuat, tahu. Itu yang Eomoni ajarkan padaku.” Dia berkata ketus. Ya, sudahlah. Membalas ucapan tajamnya sedaritadi nanti saja kalau mulutku sudah tidak penuh.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong Nyonya Kwon ke mana? Apa dia pergi?” tanyaku tiba-tiba. Tanpa diduga Seuna langsung mendesis dan menatapku tajam sekali dari tempatnya duduk. Aku mengangkat alisku. “Wae? Wajahmu menyeramkan.”

Seuna melengos sebentar, tampak berpikir. Raut wajahnya seketika aneh, ia mengeras. “Ne, neo geurae. Dia sudah pergi.”

Dia berkata begitu cepat-cepat. Otakku langsung tersambung pada suatu penjelasan. Maksudnya ‘pergi’ yang dia katakan itu, ‘pergi’ orang yang benar-benar sedang pergi atau orang yang sudah… kau tahu, meninggal? Itu kan bisa berarti lain.

Aku membuka mulutku hendak bertanya lagi, “Geurom—”

“Bisakah kau cepat menyelesaikan makananmu dan membiarkanku pergi ke kamar? Kau membuat mood ku hancur.” Ucapnya gesit memotong pembicaraanku.

“Yaa! Bicaralah yang sopan, kau masih muda, kan?” seruku, lama-lama kesal dibuatnya. Kesabaranku harus diuji menghadapi yeoja ini. Bahkan saat di WGM bulan lalu saja yeoja yang kuhadapi memang tidak girly seperti tipeku tapi dia tak bersikap ketus begini, deh!

“Aku memang masih muda. Masih duapuluh tahun. Memangnya kau sudah tua? Huh, aku harus memanggilmu ahjussi lain kali.”

“YAAA!!” mulutnya ternyata lebih setan daripada aku! Yeoja ini mencari mati rupanya. Aku berteriak kesal hingga kuah ramenku bercipratan ke mana-mana.

“Kau ini berisik sekali. Lihat, kuahnya tumpah. Nanti cuci saja itu sendiri, AHJUSSI.” Dia memberikan penekanan pada kata ahjussi-nya. Omona! Kepalaku bisa hangus terbakar jika tiap harinya berurusan dengan yeoja ini.

“Neo! Aku sudah duapuluh empat tahun! Kau harus sopan padaku! Panggil aku -ssi, atau oppa! Arratchi?” sengitku mendelik ke arahnya.

Dia menoleh, “Ya! Sejak kapan orang asing sepertimu berani menyuruh tuan rumah, hah? Ahjussi tua, cepat selesaikan makananmu, aku mau ke kamar!” dia berseru kencang dan sedetik kemudian langsung bangkit dari duduknya dan berjalan lebar-lebar menuju tangga. Dari langkahnya kurasa dia marah. Yeoja ini menyebalkan sekali!

“Ya! Seuna-ssi! Chamkkama—Aish! Babo gateun!” aku berdiri dan berteriak padanya. Ish, rambutnya yang menggelegar itu menutupi telinganya mungkin, ia tak kunjung berbalik. Aku langsung menggaruk kepalaku frustasi.
Aku menatap mangkuk ramen di hadapanku. Apa aku harus mencucinya dengan tanganku sendiri?

“Jadi ini Cho Kyuhyun Super Junior! Oseo oseyo!”

Malam harinya aku dapat melihat penampilan Tuan Kwon yang begitu berbanding terbalik dengan si Kwon Seuna itu. Tuan Kwon berpostur gempal dan gagah. Wajahnya ramah namun sayang kerutan di dahinya menghilangkan kesan itu. Kurasa dia pernah mengalami suatu depresi berat atau frustasi di kantor dengan pekerjaannya. Sementara si Kwon Seuna itu, duduk di sofa dan mengangkat dua kakinya ke atas seperti sedang di warteg dan menyetel televisi keras-keras, seolah tak mempedulikan abeojinya yang baru saja pulang. Yeoja ini tak tahu sopan santun.

Aku kembali fokus pada Tuan Kwon dan mengurungkan niatku untuk menjitak kepala yeoja itu di hadapan abeojinya ini. “Cho Kyuhyun imnida. Bangapseumnida. Mohon bantuannya selama ‘dua bulan’ kedepan.” Aku menekankan kata ‘dua bulan’ sebab itulah yang membuatku merasa tertekan di sini.
Tuan Kwon tertawa. “Jangan begitu formal. Kau bebas di sini. Anggap saja rumahmu sendiri.” Oh, itu kabar bagus. Berarti aku bebas menjitaki kepala si Kwon Seuna itu dan membalas dendam akibat kejadian tadi, aku-Kyuhyun-SuJu-harus-mencuci-piring-di-rumah-orang-lain-yang-tidak-kenal-apa-itu-Super-Junior. Mengenaskan.

“Apa Ahra sudah menghubungimu lagi? Bagaimana perjalanannya?” tanya Tuan Kwon. Oh, iya. Aku hampir lupa dengan noonaku. Astaga.

“Ah, ne. Dia baru meneleponku sore tadi. Pesawatnya baru take off dua jam yang lalu. Aku harap dia baik-baik saja selama di Amerika.” Jelasku sok jaim.

Tuan Kwon mengangguk dan membenarkan posisi duduknya. “Ne, aku harap juga demikian.”
Tuan Kwon kemudian mengalihkan pandangannya pada yeoja jadi-jadian itu yang tengah menonton… Naruto. Astaga. Apa dia adalah Narutoholic, huh? Di pintu kamarnya tadi tertempel ribuan stiker Naruto. Apa di dalam kamarnya dipasangi wallpaper desa Konoha dan suara gaduh yang dihasilkannya tadi adalah dia yang tengah mencoba meniru gerakan silatnya Sakura sehingga jadi terlihat seperti yang aslinya dengan wallpaper itu? Omona. Omona.

“Seuna-ah, kau tidak ingin bicara dengan Kyuhyun?” Tuan Kwon bertanya halus. Sementara ia masih memandangi Sasuke bersama si namja ular itu—aku lupa namanya—dengan jarak hanya duapuluh senti dari layar kaca televisi! Kenapa dia tidak langsung buta saja, sih.

“Shireo. Aku sudah bicara dengannya tadi. Dia menyebalkan.”

MWOYA? Lain kali akan kujedotkan kepalamu ke dinding baru tahu kau!

Tuan Kwon mendesah berat dan langsung menatapku yang sedang menahan emosi. “Mianhada. Putriku memang keras begitu. Kau pasti emosi, kan? Wajar. Sebab aku yang mengurusnya dari lahir ketika Eomoninya—”

“Abeoji! Sikkeuroyo!” Seuna meneriaki Tuan Kwon dengan tiba-tiba. Kurasa ada hal ganjil yang terjadi di sini. Seuna selalu bereaksi ketika ada seseorang yang membawa-bawa Eomma-nya ke dalam pembicaraan. Sepertiku tadi.

Tuan Kwon menatap Seuna sedih. “Arraseo. Mianhae telah membuatmu mengingat—”

“Sudah kubilang, SIKKEURO!!”

Aku langsung terlonjak kaget. Seuna memang pernah berteriak padaku tadi siang namun tak sekencang ini. Dari belakangnya bisa kulihat bahunya bergetar hebat, menahan emosi. Apa Tuan Kwon selalu menerima perlakuan kasar dari anaknya ini? Aku sungguh tak mengerti. Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini?
Tuan Kwon mendesah berat dan kemudian berganti menatapku. “Cho Kyuhyun-ssi. Sebaiknya kau masuk ke kamarmu dulu. Ini sudah malam. Dan, maafkan putriku juga. Kau pasti bingung. Jangan dipikirkan, dia memang suka membentakku.”

Aku hanya bisa mengangguk dan segera berjalan menjauh menuju kamarku di lantai dua. Sebenarnya aku tahu itu hanyalah kalimat perintah basa-basi agar aku pergi dari situ dan tak mendengar pembicaraan pribadi mereka. Namun dasarnya setan. Aku menghentikan langkahku di tangga dan kembali mengintip ke bawah dari atas, Tuan Kwon dan Seuna yang tampaknya membicarakan sesuatu yang penting dan serius begitu.

“Seuna-ah, kau tidak harus berkata ketus begitu, kan? Dia tamu. Kalau dia tidak nyaman repot juga akhirnya.” Nasihat Tuan Kwon. Ah, sudah kuduga namaku akan dibawa-bawa.

“Sirreo. Biar saja dia tidak nyaman. Aku ingin dia keluar dari rumah ini. Aku tidak ingin ada orang lain yang masuk ke rumah ini!” serunya jengkel dan membuang bantal sofa di genggamannya. Aigoo, sudah kuduga dia tak menyukaiku dari awal. Apa-apaan sih.

Tuan Kwon menghela napas—aku lihat itu dari gerakan dadanya—dan memijit keningnya yang berkerut. “Aku hanya ingin dia menjadi temanmu selama dua bulan kedepan. Ayolah, Seuna-ah, cukup duapuluh tahun aku melihatmu begini. Aku hanya ingin kau menjadi yeoja norma—”

“Aku normal, Abeoji! AKU NORMAL!” Seuna membentak Tuan Kwon dengan kalimat yang kencangnya mungkin dapat menggetarkan pigura besar yang dipajang di dinding. Aku langsung menutup telingaku yang berdengung. Aku tidak tahu bagaimana nasib telinga Tuan Kwon dengan jarak sedekat itu. ”Berhenti menatapku seolah aku bukan seorang yeoja! Sudah kuduga sejak lama, bahkan kau pun tak dapat kupercaya!”
Seuna berdiri dan langsung melangkah menuju arahku untuk naik tangga. Aku langsung buru-buru melejit masuk ke kamarku ketika tahu dia kemari dengan emosi yang sedang kebakaran.

BRAK!

Omo. Aku kasihan pada stiker-stiker Naruto itu. Mereka pasti pusing karena pintu kamar—tempat tinggal mereka—dijeblak begitu oleh si Kwon Seuna. Konohagakure gempar.

Sebenarnya ada apa dengan si Kwon Seuna itu sih? Kenapa Tuan Kwon bisa memiliki anak setan sepertinya? Dan lagi apa Tuan Kwon sudah terbiasa dibentak begitu oleh anaknya sendiri? Kurasa aku sangat terasingkan di sini.
Satu lagi. Ini sudah malam, kenapa Nyonya Kwon belum pulang?

[To Be Continued]

Seuna : Yaa! Setan menyebalkan! Pergi dari rumahkuuu >.<

Kyu : Setan bilang setan! Kau sendiri, yeoja kuli!

Seuna : Mworagoooohhh?? Yaaaa!! *jambak rambut Kyu*

Kyu : Yaa! Jangan ditarik! Aigoo, KAU MENGHANCURKAN TATANAN RAMBUTKUU!!

Eottohkkae? Eoh? Ini cuma 1st chapter jadi agak fluffy gitu ya, belom muncul konfliknya *apabae* xD

Semoga suka ya~ AKU NGGAK SUKA ADA SILENT READER! Author ngga bakal makan orang kok, jadi nggausah takut~ nah, berhubung aku lagi sibuk terapi tulang, mungkin next chapternya agak lama dipublish.

Miianhaee~

 

Advertisements

One thought on “Chapter 1

  1. Ahahaha… 😀
    Kyuhyun Super Junior Nyuci Piring…
    Suka dech Ma FanFiction’nya…
    Lumayan Panjang,.dan cerita’nya gampang di’mengerti…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s