Poor ChenChen

Title     : Poor ChenChen

Author    : JongDay

Genre    : brothership, comedy, other

Length    : oneshoot

Cast     :

>Kim JongDae aka Chen

>EXO

Disclaimer : inspired by my brain, the facts inside are real, EXO belongs to God, SM, and their parents, but ChenChen is mine :))

Warning   : COPYCAT AND PLAGIATOR MAY JUST LEAVE. DON’T BE A SILENT READER PLEASE, I PUT ON MY SWEAT AND TEARS TO WRITE THIS SO PLEASE APPRECIATE ME.

A/N     : epep ini didedikasikan untuk Chen aka Kim Jong Dae EXO-M, bias utamaku. Aku nulis ini karena sedih begitu tau postingan salah satu tumblr yang nyebutin bahwa dia gak terima dengan posisi Chen di EXO-M yang pokoknya nanti aku cantumin translation postingan tumblr itu di epep ini.

Juga karena tau fans Jongdae sedikiiit banget, atau tiap epep yang kubaca di blog manapun juga jaraang banget ada yang main castnya ChenChen. Bukannya nyalahin, tapi sebagian besar adalah Baekhyun semua. Juga tiap foto di recording mana, yang dipost di fanpage mana, foto Chennie selalu dikiiiit banget. Dan aku nulis ini istilahnya curhat aja gitu.

Mari kita simak :))

__________________________________________________________

Sadar atau tidak, bagaimanapun juga sebagian EXOtic hampir tak pernah menyinggung nama member ini. Mungkin karena kurang terkenal. Mungkin karena dia dimasukkan dalam EXO-M sehingga banyak yang tak mengenalnya. Atau bisa dibilang, yang ‘terbelakang’. Namanya…

Kim Jong Dae.

Hari ini dorm EXO terlihat sepi. Bukan karena hari masih pagi, tapi karena setiap member terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing hari ini. Xiumin-hyung sedang membersihkan meja makan yang berantakan sehabis sarapan tadi. Luhan-hyung tentu saja sedang bermain Ddabong dengan Sehun bersama Kai di kamarnya, dan menghasilkan suara ribut dari sana. Kris-hyung dan Tao sedang keluar, produk musim gugur Gucci baru keluar di toko langganan Tao di Haidian, jadi Kris-hyung menemaninya belanja. Suho-hyung tengah membaca koran di balkon dengan espressonya. Kyungsoo dan Lay-hyung tentu saja mencuci piring dan membereskan dapur. Chanyeol dan Baekhyun-hyung juga sibuk menonton drama Love Rain-nya Yoona-noona.

Aku? Aku… entahlah. Aku seperti pengangguran di sini. Di sofa ruang tengah, mengutak-atik channel TV tapi tak ada acara yang bagus. Hari ini seluruh member memang stay di China karena ada recording lagi yang mengundang EXO OT12 ikut serta, namun jadwalnya masih dua hari lagi.

Aku bosan.

“Yah! Yah! Yaaah!! Kenapa ditinggal! Aah! Yoona-noona kasihaan!” tuh kan. Si Daging Panggang dan si Virus Menyeramkan itu mulai berisik lagi. Kenapa mereka tidak menonton drama di kamar saja, sih?

Hening.

BaekYeol-hyung pasti sedang menahan tangis menonton drama itu. Huh.

“DDABOOOOONG!!!”

Astaga! Siapa sih yang teriak-teriak begitu! Aish, pasti si Kai. Sudah tahu suara jelek begitu masih saja teriak-teriak. Coba kalau aku ikut bermain Ddabong. Aku pasti menang. Aku kan pemegang nada tertinggi di seluruh EXO, hahaha.

Hening lagi.

Ah, lama-lama bosan juga nganggur di depan TV begini.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dapur dan menghampiri Xiumin-hyung, Lay-hyung dan Kyungsoo yang tengah bergulat dengan alat-alat dapur mereka.

“Wah, Hyung-nim, kalian sedang apa? Makan siang kan masih lama.”

Xiumin-hyung menoleh sambil memegang ekor ikan tuna yang masih… hidup… dan menggeliat… dan berbau amis… —ukh—di tangan kirinya. Aku menatapnya jijik sambil mundur selangkah.

“Apa?” Xiumin-hyung bertanya heran. Sepertinya dia tak mendengarku bertanya tadi.

“I-itu,” tunjukku pada si ikan tuna, “mau dibuat apa, Hyung?”

“Ini?” Xiumin-hyung mengangkat tinggi si ikan tuna itu.

“Mau dibuat sashimi, Jongdae-hyung.” Kyungsoo yang menjawab sambil mengiris sayuran di atas talenan dapur.

Aku melihat Lay-hyung yang sedang asyik mencuci beras sambil menari-nari sendirian seperti orang gila—sepertinya ia mengabaikan kehadiranku di sini atau apa. Lalu Xiumin-hyung yang sedang menguliti sisik ikan tuna tadi serta Kyungsoo yang sibuk memotong macam-macam sayuran. Memasak sepertinya asyik juga.

“Boleh aku membantu?” pintaku pada Kyungsoo sambil mengintip sedikit dari balik pundaknya.

“Yaa, tidak boleh! Kau tidak bisa memasak. Urusan dapur serahkan saja pada kami bertiga, Hyung.” Jawabnya sambil menodongkan pisau dan mengayunkannya ke atas dan ke bawah.

Aku bergidik sebentar lalu memperhatikannya lagi yang kembali memotong sayuran. “Jebal, Hyungnim. Aku bisa mencuci piring. Aku tak punya kerjaan lain, nih.”

“Cucian piring sudah dicuci, Jongdae-ya.” Timpal Xiumin-hyung.

Aku memutar otak, “Mm, membereskan dapur?”

“Nanti kami bisa pusing kalau kau sembarangan membereskan benda yang sudah kami ingat tata letaknya.” Tambah Lay-hyung yang entah kenapa menjawab pertanyaanku padahal tadi dia sedang sibuk menari-nari sambil mencuci beras.

“Lalu aku harus apa di dapur?” tanyaku lagi.

Xiumin-hyung menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari tuna yang sekarang innalilahi sudah mati itu, “Tidak ada, Jongdae-ah. Tidak ada. Sudah sana, kembali ke ruang tengah, kau bukan ahlinya di bidang dapur, jadi jangan kemari.”

Bahuku menurun seketika dan aku menggembungkan pipiku kecewa. Aku lantas memutar badan dan berjalan gontai ke ruang tengah. Ah, aku tahu memasak bukan keahlianku. Tidak seperti Kyungsoo si Cooking MAMA. Atau Lay-hyung ibu di EXO-M. Atau Xiumin-hyung yang jago memasak spaghetti. Aku kan hanya ingin membantu. Toh aku tak punya kerjaan lain hari ini.

Aku melihat BaekYeol couple yang ternyata sudah selesai menonton drama dan sedang berkaraoke ria sekarang. Aku menghampiri mereka dengan semangat.

“Hyung-ah! Sedang apa?” tanyaku.

Baekhyun-hyung menoleh sambil menghentikan nyanyiannya sementara Chanyeol masih tetap bernyanyi, “Karaoke, Chennie.”

“Wah, boleh aku ikut?” ucapku bersemangat, ini urusan menyanyi, gampang.
Aku melihat layar televisi yang sedang memutar karaoke video musik apa itu aku lupa-lupa ingat tapi sepertinya video musik B.A.P – Power.

Baekhyun-hyung menatapku, “Kau bisa menyanyi ini? Chanyeol bagian rap Bang Yongguk, Himchan, Jongup dan Zelo lalu aku bernyanyi bagian Daehyun dan Youngjae. Kau mau ambil bagian mana?”

Aku berpikir sebentar. Aku tak terlalu tahu lagu-lagu zaman sekarang, maksudku, selain China, aku juga jarang mendengarkan musik dari grup-grup rookie seperti B.A.P.

“Umm, bagaimana kalau lagu H.O.T?” usulku.

Baekhyun-hyung langung menatapku aneh, “H.O.T?”

Aku mengangguk.

“Baiklah. Yeolie! Ayo ganti kasetnya.” Baekhyun-hyung menyenggol lengan Chanyeol dan berjalan menghampiri DVD.

“Ya! Ya! Yaa! Jangan digantii! Aku belum selesai! Bagian rap Zelo itu susah sekali, sih!” Chanyeol menahan Baekhyun-hyung sambil mengacak-acak rambutnya gemas.

“Tapi Chennie mau menyanyi lagu H.O.T!” tegas Baekhyun-hyung.

“Tapi aku belum selesai bernyanyi!” Chanyeol berkata tinggi dengan nada suaranya yang bass.

“Tapi Chennie belum terlalu tahu lagu ini! Nanti dia tidak bisa bergabung! Di lagu ini kan penuh bagian rap!” Baekhyun-hyung berkata ngotot. Aigoo, kenapa malah bertengkar begini sih?

Chanyeol menatapku dengan tatapan ah-jadi-Chen-ingin-bergabung-juga nya. “Yaa~ Chen-hyung, aku belum selesai. Mengapa kau tak menyanyikan bagian Zelo saja? Kan sama rata! Lagipula aku tidak bisa bagian yang itu.”

Baekhyun-hyung menyenggol lengan Chanyeol, “Kau ini bagaimana sih, Chennie kan tidak bisa nge-rap.”

Chanyeol buru-buru menggaruk tengkuknya, “Oh, iya ya. Kalau begitu biar aku saja. Baekkie, kau bagian Himchan Jongup. Biar Chennie-hyung yang ambil bagianmu.”

Baekhyun-hyung buru-buru melotot, “Waee! Aku suka bagian itu, jangan! Biar aku saja!”

“Lalu bagian Chennie yang mana!”

“Ya aku tidak tahu!”

Aigoo! Kenapa justru bertengkar begini, sih!

Aku buru-buru menengahi mereka dan berkata, “Arra, arra. Biar aku tidak usah ikut. Lanjutkan saja dengan formasi awal Hyungdeul barusan. Aku mau ke ruang tamu saja.”

Setelah kuucapkan demikian, barulah Baekhyun-hyung dan Chanyeol reda dari emosinya dan aku buru-buru menghilang dari ruang tengah dan berjalan menuju ruang tamu. Huff. Tidak ada yang bisa mengganggu momen-momen BaekYeol apalagi aku yang sebenarnya tak mempunyai couple ini.

Jujur saja. Sebenarnya aku ini terlalu kampungan atau bagaimana sih? Aku tidak bisa nge-rap seperti Baekhyun-hyung. Padahal Baekhyun-hyung itu keren. Suaranya seperti lelaki asli. Tidak seperti aku yang cempreng ini. Di EXO semuanya punya suara yang berat. Hanya aku yang suaranya seperti perempuan. Aku ini bagaimana sih. Apalagi tahu hal-hal modern seperti Chanyeol. Apa aku memang ketinggalan zaman?

Aku berjalan menuju ruang tamu dan mendapati Kris-hyung dan Tao di sana. Sepertinya sedang mengobrol sehabis belanja karena di atas meja ada kantung tas baru bermerk Gucci di sana.

“Zitao, Kris-ge, kalian sudah pulang?” aku lantas duduk di samping Kris-hyung. Mereka menyadari keberadaanku dan kemudian berhenti mengobrol dengan Bahasa China lalu menatapku.

“Ne, Gege.” Zitao menjawab malu-malu dan kaku.

“Kau beli tas lagi, Zitao? Koleksi tasmu sudah banyak, kan?”

Kris-hyung menerjemahkan kalimatku ke dalam Bahasa Mandarin agar dapat dimengerti Tao. Kalau ngobrol begini biasanya kami memang butuh penerjemah. Biar tidak kaku katanya. Dan yah, harusnya aku belajar bahasa Mandarin lebih giat agar aku bisa berkomunikasi dengan yang lain dengan baik.

“Tao bilang dia tidak ingin kehabisan produk musim gugur Gucci, ChenChen.” Kris-hyung menjelaskan, sementara aku mengangguk kaku.

“Yang ini baru saja keluar, Ge.” Tao tersenyum, aku sedikit mengerti Bahasa China yang ia katakan walau tak sepenuhnya yakin ia barusan berkata apa.

Aku baru saja mau berkata lagi tapi Tao menyerobotnya dengan mengobrol menggunakan bahasa Mandarin dengan Kris. Obrolan mereka tampaknya seru. Melanjutkan yang tertunda ketika aku datang, mungkin. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, bicaranya cepat sekali. Sebenarnya, aku lebih tidak mengerti jika Lay-hyung yang bicara dengan logat Changsa nya. Tapi sama saja. Aku belum terlalu bisa bahasa Mandarin. Dan sekarang, di sini, aku tampaknya tidak diacuhkan—secara tidak langsung—dan terlihat bodoh karena tak mengerti apa yang dibicarakan Kris-hyung dan Tao. Astaga, ini apa aku saja yang terlihat bodoh atau memang kelewat bodoh? Trainee setahun sekaligus les bahasa Mandarin tetap saja belum bisa berbahasanya, selain ketika menyanyi, tentunya. Itu beda.

“Err, Kris-ge… Tao-ya?” aku berusaha memanggil mereka di tengah kesibukan mereka ngobrol.

Kris-hyung menoleh tanpa dosa sementara aku terlihat bingung seperti orang bodoh,

“Hmm?”

“Umm… ani, aniya. Eobseosseo.” Aku membalas kikuk sambil melambaikan tanganku kaku. Kris-hyung terheran sebentar, namun kemudian melanjutkan percakapannya dengan Tao.

Baiklah. Aku benar-benar miris sekarang. Baekhyun-hyung tentu saja bisa bermain dengan Chanyeol-hyung karena mereka couple. Kris-hyung dan Tao juga sehati karena mereka couple paling obvious di EXO-M.

Lalu aku?

Apa aku terlihat seperti anak hilang di sini? Kenapa aku terlihat tidak diacuhkan? Ulangtahunku masih lama. Pasti aku sedang tidak dikerjai. Ah, tunggu. Itu hanya imajinasiku saja.

Kutepis perasaan ‘tidak diacuhkan’ itu jauh-jauh dan aku mencoba untuk berpikir positif. Aku kemudian beranjak ke luar, di mana aku pasti sudah tak tahan lagi mendengar dua orang asyik berbicara dengan bahasa Mandarin dan pastinya aku tak mengerti.

Aku melihat di lapangan samping dorm, ada Luhan-hyung, Sehun dan Kai tengah bermain basket. Jadi mereka sudah selesai bermain ddabong? Kenapa aku tidak tahu? Ah, padahal aku kan bisa bergabung serta dalam permainan high note begituan.

Aku menghampiri mereka yang tampak asyik merebut bola masing-masing. Saat Kai mencoba men-dunk basket ke ringnya dan gagal, bola itu meluncur ke arahku dan aku segera menangkapnya.

“Jongdae-hyung!” Kai berseru.

Aku tersenyum, “Nee! Kalian sejak kapan main basket di sini? Bukankah tadi masih bermain ddabong?” aku menghampiri Kai dan menyerahkan bola basket itu.

“Ah, iya. Kai pemenangnya gara-gara dia berteriak paling kencang.” Sehun menjawab polos.

“Ya, ya. Aku dengar juga kok, Kai berteriak. Jadi sampai situ permainannya?”

“Ne! Luhan-hyung tidak bisa nada tinggi, aku juga. Kupikir ddabong game tidak boleh berteriak, tapi Kai justru menjerit dan menang ._.”

Aku menatap Kai yang sedang cengengesan sambil menggaruk tengkuknya. Dasar game master.

“Oh, dan kami sekarang sedang bermain basket. Kau mau ikut? Dua lawan dua!” Luhan-hyung tersenyum lebar.

Aku terdiam sesaat. Aku tidak punya basic olahraga. Quan Li Yi Fu saja aku gagal. Dan lagi dengan tinggi badan seratus tujuh puluh tiga sepertiku lawan tinggi seratus delapan puluh tiga seperti Kai sudah jelas aku kalah.

Luhan-hyung punya tinggi yang berbeda lima senti dariku, tapi dia punya basic olahraga yang luar biasa. Sehun juga berbadan atletis. Dia pasti jago.

Aku? Ah, aku tidak bisa bermain basket. Tapi, apa salahnya kucoba?

“Baiklah!”

Dan, pertandingan basket dua lawan dua dimulai dengan HunHan lawan KaiChen. Sehun mendribel bolanya dibayang-bayangi Kai sementara aku bertugas membayang-bayangi Luhan-hyung. Kai berusaha merebutnya tapi Sehun buru-buru melemparnya ke arah Luhan-hyung dan sayangnya aku yang mencoba melompat gagal mendapatkan bola. Luhan-hyung berlari ke arah ring KaiChen sementara aku berusaha merebut bolanya namun sulit. Susah karena Luhan-hyung memainkan bolanya dengan lihai.

“Jongdae-hyung! Rebut! Rebut!” Kai berteriak dari kejauhan dan membuatku panik. Aku tidak tahu cara merebut bola bagaimana. Ditambah Kai sibuk mengawasi Sehun, membuatku yakin bola di tangan Luhan-hyung pasti diserahkan untukku.

Luhan-hyung men-shoot bola dan aku mencoba meraih tangannya, mencoba menggagalkannya menjebol ring. Tapi bola itu sudah terlanjur melambung dan dengan suksesnya masuk ke dalan ring!

Kai berdecak, sementara aku yang baru mendarat dari lompatanku belum berpindah posisi dari bawah lubang ring sehingga bola basket yang masuk itu jatuh dan tepat mengenai kepalaku.

DUAK!

“Ch-ChenChen!”

Aku terjatuh terduduk di lapangan sambil memegangi ubun-ubunku yang kejatuhan bola basket tadi sambil menahan sakit. Aigoo, seberat itukah bola basket? Kenapa bisa sepusing ini? Kepalaku berdenyut tak karuan hingga kurasakan tangan seseorang memijat-mijat ubun-ubunku.

“Yaa, Jongdae-hyung, gwaenchanha?” Kai berlari menghampiriku sambil menatapku cemas.

Sementara Luhan-hyung—orang yang memijiti kepalaku—berlutut dan menatapku khawatir,

“ChenChen, gwaenchanha? Mi-mianhae! Apa tadi sakit?”

“Yaa~ Hyung, seharusnya kau menghindar setelah Luhan-hyung shooting tadi.” Sehun menepuk-nepuk lututku yang tertekuk.

Astaga, aku jadi terlihat uncool begini di hadapan yang lainnya. Aku memang payah. Memalukan!

“Ani, ani, nan gwaenchanha.” Ucapku meringis seraya mencoba bangkit dari dudukku dengan meraih tangan Sehun yang tersodor untuk membantuku berdiri. Aku tersenyum kikuk, sementara Luhan-hyung memperhatikan wajahku yang mungkin terlihat menyedihkan ini dengan raut cemas.

“Jinjja gwaenchanha?” Luhan-hyung bertanya lagi. Sepertinya ia benar-benar khawatir.

Aku menepuk-nepuk bokongku yang terasa kotor akibat jatuh di tanah sambil menggaruk tengkukku dan tertawa hambar. “Jinjja, Hyung. Hanya sedikit pusing tadi.”

“Geurae? Kalau begitu, ayo main lagi!” Kai berseru sambil menyambar tanganku dan mengajakku ke tengah lapangan.

Tapi aku melepaskan tangannya perlahan sambil menggeleng, “Ani, Kai-ya. Kepalaku masih pusing. Lebih baik aku menonton dari pinggir lapangan saja, ya.”

Kai berhenti melangkah dan berbalik menatapku dengan tatapan kecewanya, “Matta, mianhae, Hyung. Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu Hyung istirahat saja dulu, supaya tidak sakit lagi.” Sehun menggandengku dan membawaku ke pinggir lapangan. Ia lantas mendudukkanku di bawah pohon palm, “Kami main lagi ya, Hyung. Semoga kepala Hyung cepat sembuh. :)”

Aku mengangguk, lalu Sehun kembali bermain bersama Kai dan Luhan-hyung. Aku menatap mereka yang bermain basket seperti pemain profesional. Terlebih Kai dan Luhan-hyung, mereka sangat mahir memainkan basket. Sehun bermodal tinggi sehingga dapat dengan mudah menjangkau bola lambung.

Aku? Jangan tanyakan aku. Aku sungguh memalukan. Aku tidak bisa bermain basket seperti mereka. Aku tidak punya basic olahraga. Tinggiku pas-pasan. Apa yang modal dari diriku? Suara saja? Baekhyun-hyung juga punya suara yang bagus. Aku iri. Aku iri pada mereka yang punya bakat lebih. Entah kenapa aku justru benci pada diriku sendiri, saat ini.

Aku tidak seperti Luhan-hyung yang manis, tampan, disukai banyak yeoja, pandai bermain rubik apalagi sepak bola, bisa berbicara dua bahasa, pandai menari dan menyanyi, juga ramah pada semua orang. Aku tidak seperti Kai yang tinggi, berkulit hitam dan berbibir tebal eksotis, jago menari dan lihai dalam segala permainan. Aku tidak seperti Sehun yang tinggi dan berkulit semulus porselen dan seputih susu, juga pandai menari padahal umurnya masih belia.

Semua member EXO punya bakat yang menonjol masing-masing. Apa bakatku? Aku bisa bermain piano. Tapi Lay-hyung dan Baekhyun-hyung juga bisa. Itu tidak berarti.

Aku meringkuk sambil memeluk kedua lututku. Rasanya begitu menyedihkan menjadi diriku yang tak bisa apa-apa. Dan tidak dengan siapa-siapa. Mengertilah maksudku, semua member EXO punya couple masing-masing. TaoRis, HunHan, KaiDo, BaekYeol, LayHan, XiuHan, SuDo. Dan aku terkesampingkan, sepertinya.

Aku menghela napas berat, kenapa hari yang membosankan ini jadi hari yang paling menyedihkan bagiku? Aah, molla! Terserah! Biarkan saja aku jadi yang terbelakang di EXO, toh aku juga masih tetap dicintai fans. Sedikit fans, maksudku. Itu sama saja kan?

Aku lantas bergumam pelan, sambil melirik KaiHunHan yang masih bergelut basket di lapangan dan mendesah, “Apa aku benar-benar payah daripada yang lain?”

“Lho, Jongdae di mana?” Suho menghentikan kegiatannya menghitung anggota keseluruhan EXO saat makan malam di ruang makan dorm.

Chanyeol yang baru saja hendak melahap sashiminya berhenti mangap dan menutup mulutnya kembali karena ia tahu peraturan makan di EXO, jangan mulai makan bila member lainnya belum berkumpul semua.

“Ada yang lihat Jongdae?” Suho mengulang pertanyaannya dengan kalimat yang berbeda.

“Aku tidak tahu, Hyung. Tadi siang Jongdae-hyung bermain basket bersama kami tapi dia terluka dan kusuruh saja dia istirahat di pinggir lapangan.” Sehun menjawab dengan lugu, “Tapi, selesai bermain basket aku tidak melihat Jongdae-hyung lagi.”

“Mungkin di kamar!” Xiumin berceletuk, ia meraih capcay di piring seberang tapi tangannya buru-buru ditepuk D.O yang mengingatkannya agar jangan mengambil makanan dulu.

“Memangnya dia tidak tergoda harumnya makanan-makanan buatan kami? Apa dia tidak lapar sejak makan siang tadi?” Lay bertanya.

Kris mencibir di ujung meja, “Dia kan tidak seperti anjing kelaparan yang akan datang sendirinya hanya dengan pancingan bau makanan, Yixing. Tidak seperti BaekYeol itu.”

Mendengar nama-nama mereka disebut Baekhyun dan Chanyeol melirik Kris sewot, “Kenapa seperti kami, Gegee!?”

Kris langsung memberikan tatapan mautnya yang menjengkelkan dan sok ganteng tapi memang aslinya ganteng itu sambil bertanya nyolot, “Apa, hah?”

BaekYeol buru-buru menggeleng kikuk begitu mendapat serangat maut dari Kris, “Ani, Ge. Ani, Gege baiiik sekali sampai-sampai menyamakan kami seperti anjing kelaparan. Hehehe.” Chanyeol nyengir kuda.

Baekhyun mengetuk kepala couple nya itu. “Yeolie babo. Jangan bawa-bawa aku kalau disamakan dengan anjing kelaparan,”

“A-Apaa!? Baek-ah! Kau pengkhianat!” Chanyeol berseru mendramatisasi suasana.

“Ya! Ya! Ya! Drama To The Beautiful You belum tayang di Indonesia, jadi jangan mulai akting dulu di sini, Chanyeol-hyung!” seru Kai menghentikan akting Chanyeol yang menurutnya berlebihan itu.

Suho tiba-tiba berdiri dari duduknya dan hendak pergi dari ruang makan. D.O melirik Suho, “Mau ke mana, Hyung?”

Suho menoleh, “Sudah tentu memanggil Jongdae, lah. Kalian mau tidak makan semalaman karena Jongdae tidak hadir di sini?”

Serempak, kesepuluh anggota EXO menggeleng cepat.

Suho lantas beranjak pergi ke kamar Chen dan mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban dari dalam, ia lantas mengetuk pintu lagi. “Jongdae-ah! Ayo keluar, makan malam sudah siap. Semua member menunggumu.”

Masih belum ada jawaban juga, Suho menempelkan telinganya di depan pintu kamar Chen. Hening. Apa jangan-jangan dia tidak ada di dalam kamar? Atau dia sedang tidur?

“Jongdae-ah?” suara Suho memelan, tangannya berinisiatif memutar kenop pintu namun ia masih sibuk juga memikirkan kesopanan. Mengetuk, diizinkan, baru masuk.

“Ah, biarkan! Aku kan tua jadi dia pasti sungkan padaku, haha.” Suho membantin, hambar, plus bangga mengaku dirinya sudah tua.

Suho lantas membuka pintu kamar Chen dan mengintip sedikit dari balik pintu. Rupanya Chen tengah tertidur. Tengkurap dan berlawanan arah dari kepala kasur, sehingga kakinya yang berada di atas bantal. Posisi tidur yang aneh ._.

Suho bergumam dan menutup kembali pintu kamar Chen, kali ini lebih pelan, semata karena tak ingin membangunkan namja itu. Ia lantas pergi kembali ke ruang makan di mana kesepuluh member EXO tengah bersenda gurau dan belum memakan makanan mereka masing-masing. Kedatangan Suho disambut riang oleh Baekhyun dan Chanyeol. Namun juga sekaligus tanda tanya.

“Lho, mana Chennie, Hyung?” Baekhyun bertanya.

Suho tersenyum simpul, “Ayo mulai makan makanannya. Tapi sisakan jatah untuk Jongdae. Dia sedang tertidur di kamarnya.”

Member lain menjawab patuh, “Arraseo!”

Apakah Suho-hyung sudah pergi? Sudah?

Aku membenarkan posisi tengkurapku yang berantakan dan kemudian mengangkat kembali laptop yang kusembunyikan di kolong kasur dan kembali memainkannya. Aku belum lapar. Dan aku tidak lapar. Lebih baik aku mengurung diri di kamar sambil membaca beberapa pesan dari para fans di fanboard EXO-M dari laptop. Atau membuka yinyuentai atau youtube untuk melihat komentar-komentar fans tentang video mengenai EXO. Itu akan membuatku merasa lebih nyaman setelah seharian merasa tertekan akibat kejadian siang tadi yang membuatku sempat merasa… tak berarti di EXO.

Ah! Lupakan, Jongdae! Be positive! Oke? Be positive!

Aku membuka satu persatu pesan-pesan di fanboard yang kebanyakan berhuruf hanja, agak sulit dibaca tapi aku lumayan mengerti.

‘Elvira’

EXO-M, fighting!! Semangat di recording-recording kalian! Yixing, jaga kesehatanmu! Aku mencintaimu!!!

Baik, ini untuk Lay-hyung.

‘dmmsvio’

Kris!! When will you hold a concert in—

Backward. Aku tidak mengerti bahasa alien yang sudah pasti ditunjukkan untuk Kris-hyung yang fasih berbahasa Inggris itu.

‘kyunchae’

Zitao!! Taozi!! Ah, kau seperti buah persik! Tapi dirimu lebih mirip panda! Tapi mengingatkan juga pada Bruce Lee. Haha, kau tahu? Aku mencintaimu!!

Ini untuk Zi Tao. Ah ya, panggilan untuknya memang fleksibel.

‘xxhanhanxx’ Luluuu, apa rahasiamu menjaga wajahmu yang awet muda itu? Beritahu aku!!! Aku sangat menyukaimu! Baby face LuLu!!

Ah, yang ini aku tidak perlu heran. Luhan-hyung begitu populer.

‘BbaobaoO’ Cute Baoziiiii!!! Kenapa wajahmu begitu seperti bayi yang baru bisa merangkak? Manis dan lucu! Kalau kau roti bundar sungguhan, pipimu bisa habis kucubiti!!!!

Aku terkikik geli membacanya. Xiumin-hyung bayi yang baru bisa merangkak? Duabelas bulan, dong!

Aku membuka fanboard lain di bawahnya. Dan kuharap ini adalah pesan untukku. Sebab hanya aku yang belum terbaca fanboardnya.

‘fahlevora’

GYAAH!! Wu Fan!! Aku berharap bisa bertemu denganmu di kampung halamanmu, Vancouver! Aku sedang di sini!! Kampung halamanmu! Kyaaah!!

Oh.

Bukan untukku.

Ini untuk Kris-hyung.

Baiklah, buka selanjutnya.

‘yunyitanbai’

Astaga! Astaga! Astaga!! Aku suka sekali couple baru ini! XiuHan!! Mereka sungguh dua kakak tertua EXO yang paling imut!!

Ini bukan aku lagi.

Aku mendesah kecewa, tapi aku terus memutar scroll laptopku dan membuka-bukanya asal namun aku tak kunjung menemukan fanboard untukku! Apa-apaan ini! Apa fansku begitu sedikit di China? Parahnya lagi semua tulisannya memakai huruf hanja, tak ada huruf hangul. Jangan-jangan di seluruh duniapun aku kurang terkenal begitu? Aku terus mencoba membuka-buka fanboard, hingga duapuluh kali. Lalu hingga jariku lemas.

Apa memang mungkin jika benar yang ada di batinku beberapa saat lalu? Aku? Mempunyai sedikit fans, karena tidak menonjol atau bagaimana jadi tak ada yang mengirim fanboard untukku? Jangan bodoh, Jongdae. Aku baru membuka puluhan pesan. Masih ada ratus ribuan lainnya yang belum kubuka. Dan aku tak mau mati dengan jari putus karena terus menekan-nekan trackpad laptop.

Aku terus membuka halaman selanjutnya sampai sebuah fanboard kutemukan dalam huruf hangul, memudahkanku untuk membacanya. Namun tenggorokanku sontak seperti tercekik tatkala melihat title fanboard itu.

‘Aku Rasa Chen Tidak Pantas di EXO-M’

A-apa-apaan ini?

Aku memberanikan diriku untuk membukanya. Walau takut-takut. Tapi bagaimanapun juga ini menyangkut namaku. Dan terlihat serius.

Tidak apa-apa kah?

‘Aku pikir Chen tidak seharusnya berada di EXO-M. Bukannya aku tak menyukainya (aku begitu mencintanya sampai mati) tapi kupikir dia akan lebih bahagia berada di EXO-K. Dia harus berjuang keras untuk menyanyi dalam bahasa Mandarin, dan aku merasa kasihan melihatnya duduk di sana, dalam berbagai interview dengan terlihat sedikit kebingungan di wajahnya, tidak tahu apa yang dikatakan atau apa yang terjadi. Adalah suatu keputusan bodoh SM untuk menempatkan dua anak laki-laki Korea di grup Cina saat mereka hampir tak dapat berbicara bahasa Mandarin dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mempromosikan negara asalnya Korea. Bagaimana para fans akan mengenal Chen ketika dia bahkan tak bisa berbicara dengan bebas tentang dirinya, dan kami (fans) tidak dapat mendengar bakat sejatinya karena dia terbatas untuk menyanyi hanya di Cina?

Aku yakin Chen atau Xiumin punya bakat terpendam dan dapat membuat fans terpesona. Tapi beri dia waktu. Aku hanya berharap kerja keras dan jerih payah Chen yang kusayangi dari seluruh member EXO bisa membuahkan hasil maksimal. Aku ingin dia bahagia dan mendapati cinta yang besar dari fans. Makin dicintai dan diidolakan.

ChenChen, fighting!! EXOtic selalu menyayangimu!!’

Aku merasakan seluruh kujur tubuhku bergetar membaca fanboard ini. Jemariku, bibirku, bahkan pelupuk mataku yang sudah siap menjatuhkan air matanya.

Astaga. Aku ini cengeng sekali. Air mataku sudah terlambat ditahan dan berjatuhan mengenai keyboard laptop dan kurasakan mataku memanas.

Sungguhkah begitu? Masih adakah fans yang begitu besar perhatiannya padaku seperti fans penulis fanboard ini? Dia begitu menyayangiku. Bahkan hingga tak rela aku berada di EXO-M karena kasihan melihatku bersusah payah mengerti Bahasa Mandarin? Itukah alasan mengapa aku tak begitu dikenal? Karena keterbatasanku berbicara menggunakan bahasa Mandarin sehingga aku tak dapat bebas berekspresi? Ketika menghadap fakta bahwa aku orang Korea, tapi tak dapat mempromosikan diriku di kampung halamanku sendiri?

Aku… tak pernah berpikir sampai ke situ. Yang kutahu selama ini, aku hanya harus berjuang mempelajari bahasa Mandarin, belajar bersama yang lain, menghabiskan waktu bersama hyung dan dongsaengku, lalu memuaskan hati penggemarku dengan cara bernyanyi dan bernyanyi bahkan meskipun harus sampai pita suaraku putus. Baiklah, aku tak pandai menari dan selalu menari di belakang. Tapi aku bahkan terus berlatih menari hingga kakiku terpelintir dan harus dirawat sebulan waktu dulu.

Aku lantas menggerakkan jemariku yang basah karena tetesan air mataku untuk membalas fanboardnya.

Reply

Terima kasih…

Terima kasih atas perhatianmu selama ini…

Aku baik-baik saja di China. Semua merawatku dengan baik. Kris-gege menjagaku. Lay-gege dan Luhan-gege mengajariku Bahasa Mandarin. Xiumin-hyung menemaniku saat sama-sama tak mengerti Bahasa Mandarin. Tao juga selalu menghiburku dengan gestur-gestur lucunya.

Aku sungguh menghargai perhatian kalian para fans. Aku akan berusaha lebih baik lagi dan membuka diriku agar lebih bebas berekspresi. Aku akan berjuang bersama EXO hingga titik darah penghabisanku! Chen Fighting! EXO Fighting!!

Aku mencintai kalian!!

“Kita diminta untuk ke Hunan TV satu jam lagi.” Kris memberitahu seluruh member EXO lain setelah dia menutup sambungan telepon di ponselnya sambil berkacak pinggang di samping pintu ruang tengah. Dari manager-hyung. Siapa lagi.

Sontak saja seluruh member EXO terkesiap dan teriak bersahut-sahutan komplain.

“Malam-malam begini!?” Lay menggebuk meja dengan wajah serius. Tapi buru-buru hilang ketika dirasanya tangannya sakit menepuk meja besi. Ia lantas mengusap-usap tangannya kesakitan.

“Ini sudah malam, Gege~ Aku mau tiduur.” Rengek Chanyeol yang bersandar kepala di pundak Baekhyun.

“Untuk Check Sound? Atau apa? Kenapa tiba-tiba…” Suho mengucek matanya yang sayu sambil meregangkan otot-ototnya.

“Aku tidak tahu. Jadwal gladiresik besok. Hanya sebentar, kok. Mungkin bisa sampai pukul duabelas lewat.” Kris menjawab.

“Lewat tengah malam?!” D.O memelototkan matanya sebesar ini O__O dan mulutnya yang sebesar ini OAO” “Tapi ini sudah pukul sepuluh, Hyung~”

“Lho? Gladiresik kan siang. Kalian nanti masih bisa tidur balas dendam *?* sampai pukul sepuluh sebelum gladiresik.”

“Arraseoo~” semua menjawab lemas, malas dan juga ogah-ogahan. Kris bertepuk tangan *?* untuk memerintahkan semua member bangun sementara matanya juga sibuk mencari seseorang di ruang tengah itu.

“ChenChen ke mana?”

Xiumin yang menoleh pertama dan menanggapi, “Matta, dia tak bersama kita dari siang tadi.”

Kris lantas melirik Lay, “XingXing kau lihat di mana ChenChen?”

Lay masih sibuk mengucek matanya. Dia lalu menaikkan bahu tak acuh sambil terus menguap.

“Astaga. Anak itu kenapa lagi, sih? Sehunnie, coba kau panggil dia di kamar.”

Sehun mengangguk lugu lantas segera beranjak menuju kamar Chen dan Lay. Namun baru saja Sehun hendak menghilang dari balik pintu, dirinya sudah dikejutkan dengan kedatangan Chen yang tiba-tiba sambil berjalan gontai setelah keluar dari kamarnya.

“Jongdae-hyung! Kau darimana saja! Kenapa mengurung diri terus di kamar? Aigoo~ Kata Kris-hyung kita harus…”

Sehun menghentikan kalimatnya tatkala melihat Chen yang keluar kamar dengan langkah gontai dan wajah yang lesu. Apalagi ketika Chen berjalan melewati Sehun seolah tak menyadari jika Sehun ada di hadapannya tadi. Sehun mengernyitkan alis, ia akhirnya membuntuti Chen yang berjalan menuju ruang tengah dan disambut dengan helaan napas lega para member lain.

“Chennie!! Darimana saja, huh? Sedang menjadi horiokokori?” Baekhyun bangkit dan menghampiri Chen. Namun ada sesuatu yang aneh di wajah namja itu. Ia tampak tak bersemangat, yang membuat seluruh member bertanya-tanya.

“ChenChen? Kau kenapa?” Luhan menghampiri Chen dan menatap ke arah wajahnya yang tertunduk. Chen tak bergeming.

“Ya! Jongdae? Kenapa wajahmu lesu begitu?” kali ini Suho yang menepuk-nepuk pundak Chen.

Perlahan Chen mengangkat wajahnya dan menatap satu-persatu seluruh member dengan wajah datar. Seluruh member hening. Tak biasanya Chen pendiam seperti ini.

Anak ini jelas sedang punya masalah.

“Hyungdeul. Saengdeul.” Chen berujar lirih. Membuat suasana sontak berubah aneh dan tegang. “Boleh aku… minta waktu kalian?”

“Ne?” Kai bertanya reflek, “Aigoo! Tentu saja, Hyung. Kau ini kenapa, hah? Sedang punya masalah? Kajja, ceritakan pada kami!”

Chen berusaha memaksakan senyum pada Kai. Namun gagal, senyumnya justru terlihat aneh. “Aku… uhm, begini.” Chen berdeham, “Sebelas bulan aku dilatih menjadi trainee SM. Kalian semua sudah kuanggap sebagai saudara. Aku.. hanya ingin mendengar pendapat kalian mengenai diriku, eohtokkae?”

Seluruh member saling berpandangan heran. Lalu kembali menatap Chen yang saat ini tengah tertawa hambar, “Maksudmu?” Lay bertanya.

“Opinimu, Ge. Keluh kesahmu, unek-unek kalian padaku. Pendapat kalian bagaimana diriku.” Chen menjawab jelas.

Kris mengernyit, “Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu?”

Chen mengedikkan bahu, “Aku rasa diriku yang sekarang butuh masukan banyak.” Ujar Chen, “Aku… membaca salah satu fanboard. Bahwa aku masih kurang berbahasa Mandarin sehingga aku terlihat kaku di layar kaca. Lalu tarianku juga. Jadi… begitulah.”

Seluruh member terdiam. Mereka kembali saling melirik seolah tak tahu atau bingung apa yang harus mereka katakan. Namun Kris tiba-tiba maju menghampiri Chen dan menatapnya dingin dengan tatapan maut Angry Birds nya. Chen menunduk kikuk. Selain karena tinggi mereka terlampau jauh, tubuh Kris yang besar itu juga terlihat menyeramkan di matanya.

“ChenChen…” suara Kris yang berat itu membuat Chen seketika menegang. Ia kira Kris akan mengatakan sesuatu yang pahit dan menyakiti perasannya. Bukankah Kris itu sungguh disiplin dan tegas? Chen mem-flashback kembali ingatannya selama tinggal di dorm EXO-M. Ia yang paling sering nganggur dan merusuh. Kris pasti pernah kesal padanya.

Namun nyatanya justru membuat Chen terkejut. Kris langsung menjitak kepala Chen dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas sambil tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang berkilauan

“Yaa! ChenChen kau ini habis makan Bacon hah? Atau tertular Happy Virus? Oh, bukan. Omonganmu jadi bermasalah!” Kris tertawa dan membuat Chen justru terheran. Kris lantas berhenti tertawa dan menatap Chen dengan LOL Face nya.

“Hmm. Opiniku tentangmu? Bagiku kau ini menggemaskan, manis, suaramu seperti guntur di siang hari dan kadang-kadang bertindak gila. Kau sering menari-nari tidak jelas dan justru membuat kami tertawa. Kau lucu saat sedang berbicara Mandarin. Kau paling sering tertawa meskipun lawakan Xiumin-ge tidak lucu dan tawamu itulah yang justru mengundang kami semua tertawa. Sudah?” Kris mengakhiri bicaranya sambil kembali mengacak-acak rambut Chen.

Xiumin tiba-tiba berdiri, “Ya! Apa maksudmu lawakanku tidak lucu?” sewotnya, memajang wajah sangar walaupun tetap saja seperti bakpao.

Kris mengangkat sebelah bahu, “Aku hanya berkata yang sejujurnya, Gege.”

Xiumin lantas menendang pantat Kris kesal dan langsung disambut aduhan Kris, “Aish! Sial!” sewot Xiumin, ia lantas menoleh ke arah Chen, “Nah, Jongdae-ah, kau ingin dengar apa pendapatku tentangmu? Bagiku kau ini sangat usil, kau sering menjahili hyungmu tapi saat kami ingin menjahilimu kau malah melarangnya. Kau sering melakukan sesuatu yang lucu tanpa sadar. Kau suka tertawa bahkan aku sempat mengiramu orang gila. Kau sering menempel pada Lay, Tao dan Kris di China dan Suho di Korea. Ketika di acara TV aku berusaha untuk berbicara Mandarin dengan lancar tapi nyatanya kau lebih lancar daripada aku. Aah! Aku sebal padamu!” Xiumin menunjukkan wajah kusutnya namun malah disambut tawa oleh member lain. Kakak tertua mereka benar-benar menggemaskan seperti bayi. Dan tanpa sadar, Chen justru ikut-ikut tertawa kecil sambil menutupi mulutnya malu-malu.

“Bagiku ChenChen benar-benar manis. Dia sering bergelayut manja di lenganku kalau ingin minta diajari bahasa Mandarin. Dia begitu memperhatikan kesehatanku. Dia juga sering memintaku mengajarkan dance baru. ChenChen memang dancing machine EXO-M karena sering menari tidak jelas dimanapun. Dan di situ letak lucunya ChenChen. Dia patuh namun juga kadang suka tak mempedulikanku kalau aku sedang berbicara. Apalagi saat mau tidur. Aku sering bercerita sebelum tidur tapi dia justru sudah tertidur entah kapan!” Lay merangkul pundak Chen dan mengacak-acak rambutnya sambil tertawa. Chen mengaduh dan mencoba menghentikan tindakan hyung kesayangannya itu yang tak kunjung berhenti.

“Ya! Appo, Gegee~”

“Aku selalu iri pada Chennie. Suara Chennie sungguh menggelegar dan kadang saat rekaman membuatku minder. Aku selalu mencoba meninggikan pitch-ku tapi selalu tidak setinggi Chennie. Justru jatuhnya seperti berteriak ._.” Baekhyun memilin ujung bajunya sambil menunduk dan menggaruk tengkuknya malu-malu.

“Humm, Jongdae-hyung baik. Dia sopan dan juga perhatian. Aku memang tidak terlalu dekat dengan Jongdae-hyung karena selalu terpisah di Korea dan China. Tapi dia orangnya selalu mengalah dan pedulian. Dia juga gentle, benar kan, Kai?” Sehun menyenggol lengan Kai dan tersenyum lebar bersama.

“Nee! Jongdae-hyung selalu membantuku saat jadi trainee dulu. Tapi Jongdae-hyung payah! Ia selalu mengacau ketika aku sedang serius bermain game. Aku juga kesal pada Jongdae-hyung karena sering me-restart semua game di ponselku. Aaargh!” Kai mengacak-acak rambutnya sendiri frustasi sambil menendang-nendang udara kosong di hadapannya. Chen tertawa lebar penuh kemenangan.

Sementara Sehun yang duduk di sampingnya mengusap-usap punggung Kai prihatin, “Sabar, Jonginnie. Itu balasan karena kau ingin merebut Luhan-hyung dariku.”

Kai menoleh sewot, “Apa!? Hyaa~!”

Luhan tertawa sambil buru-buru menengahi mereka, kedua dongsaeng tercintanya, lalu menoleh ke arah Chen, “ChenChen, bagiku kau adalah burung camar yang baik.”

“Mwoyaa? Burung camar?” Chen mengernyit sewot.

Luhan tertawa, “Aniyo, aniyoo~ kau seperti mood-maker di EXO-M. Yang lucu dan manis, sering tertawa dan berpikir paling realistis di antara kita berenam. Aku bisa bernyanyi, tapi dulu sering disalahkan pelatih karena suaraku yang kurang power. Saat itu aku iri padamu. Pelatih menyuruhku bercermin darimu dan menjadikanmu panutan bernyayi. Dan yah, satu hal lagi. Sering-sering mainkan aku piano seperti dulu lagi, ChenChen. Arra?” Luhan berkedip. Chen mengangguk kikuk karena malu, mengingat masa-masa dulu dia sering bermain piano untuk Luhan.

“Menurutku Chennie-hyung adalah orang yang harus kuwaspadai. Baekhyun dan aku adalah couple di EXO. KaiDo, XiuHan, HunHan, TaoRis, SuDo, KaiLay. Hyung, kau tahu? Kau tidak memiliki couple resmi karena kau membaur dengan yang lain. Kau baik pada semua orang sehingga semua orang senang berada di sekelilingmu. Kau juga senang membantu masalah orang lain, jadi kupikir kau juga Happy Virus sepertiku!” Chanyeol nyengir kuda sambil merentangkan kedua tangannya besar-besar bahagia. Chen tersipu.

“Tapi dia Happy Virus realistis yang lebih sopan dan unyu daripada kau, Channie.” Baekhyun menyenggol lengan Chanyeol dan menatapnya datar.

“Aish, terserah deh.” Balas Chanyeol.

“Hmm.. Uhmm,” Tao bergumam-gumam, memikirkan bagaimana caranya ia berkata dengan bahasa Mandarin yang dapat dimengerti Chen. “Chen-gege sangat baik padaku. Kalau tidak ada Kris-ge biasanya yang selalu menemaniku adalah Chen-ge. Walaupun kadang masih sering misunderstanding *halah* tapi Chen-ge selalu menghiburku. Formasi berdiri EXO-M membuatku terpisah dari Kris-ge, aku pikir aku pasti tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Kris-ge tapi Chen-ge mengajariku berbagai hal.” Jelas Tao malu-malu. Chen tersenyum. Ia mengerti apa yang Tao katakan oleh sebab itulah ia kemudian beranjak dari tempatnya dan menghampiri Tao lalu memeluknya.

“Saranghamnida, Tao-ya.” Bisik Chen seraya melepas pelukannya dan tersenyum pada Tao.

“Yaa! Jongdae-hyung! Kau melupakanku?” D.O tiba-tiba saja menepuk pundak Chen tak sabaran dan memasang wajah derp-minta-dikasihaninya. Chen tersenyum, mengerti maksud D.O dan kemudian memeluknya.

“Na do saranghamnida, Kyungsoo-ya.”

D.O melepas pelukannya dan menepuk-nepuk bahu Chen sambil tersenyum malu-malu, “Hmm. Apa ya? Aku rasa Jongdae-hyung baik. Dia patuh pada hyungdeul dan menyayangi saengdeulnya. Sama seperti Baek-hyung. Aku juga iri dengan suara Jongdae-hyung yang bagaikan petir itu. Aku selalu mencoba meraih nada tinggi, tapi jika tidak berhati-hati suaraku beresiko untuk meleot (?). Tapi Jongdae-hyung tidak. Aaa, aku rasa Jongdae-hyung adalah main vocal terbaik di EXO.” D.O bersungut-sungut disambut gelak tawa Chen yang kemudian memeluknya kembali.

“Jong-ah.” Suara Suho membuat Chen melepas pelukannya dari D.O dan menatap Suho dengan senyum.

“Ne, Hyung-ah!” jawab Chen antusias. Berhadapan dengan Suho, hyung kesayangannya setelah Kris dan Lay sekaligus terpisah di China dan Korea, selalu membuat dirinya tersenyum.

Suho meraih pundak Chen dan merangkulnya. “Aku tidak akan panjang-panjang berpendapat.” Suho berbisik di telinga Chen, “Bagiku Chen adalah saeng terbaik yang kumiliki. Semangatlah berpromosi di China. Rajinlah belajar bahasa Mandarin, dan jagalah kesehatanmu baik-baik. Suaramu harus tetap bagus dan sedahsyat petir, arraseo?”

Chen membalas pelukan Suho dalam-dalam. Ia membenamkan wajahnya di pundak Suho sambil menahan air matanya jatuh. Ternyata seluruh dugaannya kini salah. Chen bukanlah anggota terbelakang di EXO. Chen tidak mungkin tak memiliki couple dan semua member benar-benar menyayanginya.

Ia tidak bisa bahasa Mandarin, toh Xiumin pula. Lagipula Lay juga tetap setia dan sabar mengajarinya bahasa Mandarin. Ia tak memiliki keahlian lain selain menyanyi dan bermain piano. Apa keahlian itu penting dimiliki setiap idola? Lagipula dibandingkan Lay dan Baekhyun, permainan piano Chen juga tidaklah buruk. Bukankah keahlian masih bisa diasah tiap harinya? Ia tidak tinggi seperti Sehun yang masih muda, apa itu masalah? Suho, D.O dan Xiumin yang paling tua pun sama tinggi dengannya. Kai yang berkulit cokelat dan berbibir tebal begitu menarik, begitu juga dengan garis rahang Chen yang begitu tegas, kuat dan kokoh terlihat. Ia tidak setinggi Kris dan setampan Luhan, memangnya kenapa?

Chen tak bisa menari sebagus Lay ataupun Kai. Bukankah itu wajar? Ia baru dilatih selama sebelas bulan di SM. Sama seperti Baekhyun. Ia hanya difokuskan untuk menyanyi, sudah sewajarnya jika dancenya tidak selancar Kai dan Sehun yang sudah diposisikan sebagai dancer utama, bukan?

Diam-diam Chen menangis dalam hati. Ia terlalu malu. Malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentangnya, tentang posisinya di EXO-M. Namun juga bahagia. Bahagia mendengar tanggapan-tanggapan para member mengenai dirinya yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Suho-hyung, semuanya, terima kasih.

“Yaa! ChenHo is real!” Chanyeol berseru dan bersiul-siul iseng disusul oleh gelak tawa lain, menertawakan pelukan Suho dan Chen yang tak kunjung lepas.

Tiba-tiba Lay maju sambil bersungut, “Aa! XingDae juga real!” sewotnya, lalu berangsek memeluk Chen dan Suho.

“Apa-apaan kalian! XiuChen lebih real!” Xiumin maju dan berusaha melepas pelukan SuXingDae yang tak dapat lepas. Lay menghalang-halangi Xiumin yang memaksanya untuk menjauh dan membuat Xiumin berdecak kesal. Merasa kekuatannya tak cukup memisahkan mereka bertiga   akhirnya Xiumin menyerah dan memeluk tiga orang sekaligus dengan susah payah—karena tangannya terlalu pendek untuk terjangkau.

“Yaa! KrisChen juga real, lho! Buktinya kami tidur sekamar!” Kris baru akan maju memeluk Chen yang sedang dipeluk tiga orang itu namun tangan kanannya segera dicegat Tao sementara tangan kirinya ditahan oleh Chanyeol. Mereka menatap Kris dengan evil smirknya.

“Hyuung/Gegeee?”

Kris menghela napas pasrah, “Baiklaah, baiiik. KrisYeol dan TaoRis lebih real -_-”

Xiumin, Lay dan Suho melepaskan pelukan mereka dan menepuk-nepuk pundak Chen sambil tersenyum. Sementara Chen tersenyum bahagia, tak habis-habisnya ia menutup mulut dengan punggung tangannya, berusaha terlihat tidak cengeng di sini karena bagaimanapun dia adalah member ter-gentle di EXO.

Chen kemudian maju dan memeluk satu persatu seluruh member EXO sambil mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf karena lebaran sudah lewat #abaikan. Tak ia sangka, seluruh member EXO menyayanginya. Tadi siang ia memang terasa diasingkan. Namun bukankah kesendirian itu datangnya dari diri masing-masing? Pikiran negatif Chen saja yang mengatakan bahwa dirinya member terbelakang di EXO, yang tak memiliki kelebihan lain selain bermain piano, yang tidak terlalu tampan atau tinggi namun memiliki suara yang begitu menggelegar. Chen bersyukur atas apa yang ia miliki dan hadapi saat ini. Kasih sayang dari member EXO dan penggemarnya di seluruh dunia. Baginya itu sudah cukup.

Chen berusaha menepis pikiran negatifnya tentang apa yang terjadi siang tadi dan memilih menerima fakta bahwa toh meski ia tak semenonjol Baekhyun atau Luhan, atau Kai dan Kris, dirinya tetap dicintai. Baik oleh EXO maupun seluruh fans.

Suho mendekati Chen dan berbisik di telinganya, “Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi denganmu sehingga memaksa kami bicara seperti tadi. Tapi aku suka momen ini. Momen di mana aku bisa memberitahu bahwa kau dongsaeng terbaikku, Jongdae-ah. Saranghamnida.”

Chen tersenyum dan membalas bisikan Suho, “Bukan apa-apa, Hyung. Hanya introspeksi biasa. Terima kasih karena telah menyayangiku. Semuanya juga. Na do saranghamnida.”

Suho terkikik dan mengacak-acak tatanan rambut Chen yang disambut oleh aduhan namja itu lalu berlangsunglah ChenHo moment di mana Suho yang sibuk mengacak rambut Chen dan Chen yang menghindari tangan usil Suho. Seluruh member EXO tertawa dan ikut bermain bersama ChenHo. Terutama Chanyeol dan Luhan yang terlihat paling antusias.

Kris tersenyum dari pojok ruangan bersama Tao melihat aksi dan tingkah sepuluh member EXO lain. Tak berapa lama tiba-tiba ia teringat sesuatu dan lantas buru-buru mengecek jam tangan yang dipakainya. Sontak saja ia menepuk dahi dan memasang wajah horror. Seketika ia langsung berteriak, “YAA! INI SUDAH JAM BERAPA? PPALI, KITA HARUS KE HUNAN!”

“MWO?”

Suara panik nan menggelegar Kris membuat seluruh member EXO terkejut dan ikut-ikutan panik. Mereka lantas berhenti dari kegiatan masing-masing dan berlarian ke sana ke mari chaos. Chen reflek melepas pelukannya terhadap Suho dan bingung karena ia sendiri yang memang belum tahu jadwal mendadak mereka malam ini. Mereka saling berpandangan bingung.

“Mwoya? Mwoya? Kenapa semuanya terlihat kelabakan?!” tanya Chen panik melihat Baekhyun dan Chanyeol yang berlari-larian ke luar pintu dorm dengan menyambar mantel dengan acak-acakan disusul juga member yang lain.

“ChenChennie, ppaliwa!”

Lay yang melirik Chen tiba-tiba menyambar tangan namja itu diikuti dengan Suho dan menggiring Chen ke luar dorm ketika Kris dengan buru-buru menutup pintu dorm dan menguncinya rapat. Chen mengernyit kebingungan, tapi ia tak menuntut jawaban. Jadwal mendadak sudah terasa tak asing baginya semenjak debut.

Chen yang kini sibuk berlarian bersama Lay, Kris dan Suho hanya dapat tersenyum sambil memperhatikan genggaman tangan Lay di lengannya. Ia terkekeh dalam hati. Menertawakan dirinya yang selama ini telah berpikiran dangkal. Meski ia tak tahu alasan sebenarnya mereka berlari-larian toh ia tetap merasa senang. Ternyata ia begitu diperhatikan. Oleh semuanya.

Chen bergumam dalam hati sambil tersenyum bahagia.

Suho-hyung, Lay-gege, Kris-gege, dan semuanya. Terima kasih telah menjagaku dan membuatku seolah memiliki keluarga baru di EXO ini. Kalian membuatku nyaman dan kalianlah alasanku bertahan dan mencintai EXO sebagai sebuah keluarga. We are one! Oke?

Seluruh penggemarku, atau seluruh penggemar setia EXO. Terima kasih telah memberikan cinta dan perhatian padaku. Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk menjadi Chen yang dapat diharapkan. Yang mempesona, dan yang luar biasa kedepannya. Hehe.

Aku mencintai kalian, EXO, fans, keluargaku. Selamanya.

Siapa bilang bahwa Chen tidak semenonjol lainnya? Ia member EXO. Dan sama seperti lainnya. Tidak ada yang membedakan mereka karena mereka adalah satu. Siapa bilang Chen memiliki sedikit fans? Seluruh dunia dan EXOtics menyukai burung camar satu ini. Benar, kan?

Si Crazy Chen. Si Anak Aneh Chen. Si Superman Chen. Si Smile Machine Chen. Dan si Dancing Machine Chen.

Dia akan selalu menjadi main vocal peraih nada tertinggi di seluruh EXO sampai kapanpun. Karena dia juga anggota EXO. Yang satu.

We are one! We are EXO!

__________________________________________________________

AKHIRNYAAA, SELESAI! Oneshoot ini panjang bener ya? Haha, perasaan waktu nulis di HP nggak sebanyak ini deh -_-

Yaaa, nulis comedy emang gampang sih hehe. Apalagi kalo brothership. Yang lama dari proses pembuatan epep ini ya pemindahannya ke komputer.

Like it? Comment please! Gomawo!

Advertisements

15 thoughts on “Poor ChenChen

  1. Entah apa yang harus aku tulis FF ini daebak bgt sumpah , aku ini sampe mau nangis loh tp aku tahan aku bangga jadi fans’a chen , karna chen aku suka china karna suara’a aku terpesona dan semua yang ada di diri dia…

    ChenChen Wo Ai Ni :*

  2. Aku nangiiiiiiiissss..ToT
    Aku suka lagu” exo m karna chen… Dan aku rasa dia sangat manis di mv wolf..
    Wo ai ni chenchen…

  3. Ihhh… aku nangis loh,, (tpi ditahan) soalnya lagi di kantor bacanya :D… Chen aku suka kamu kok.. ^^ dan aku jga trimakasih ama Chen coz dia tuh sayang bgt ama semua member,, apalagi Xiumin (aura Shipper mulai keluar XD) WO AI NI CHEN CHEN … ❤ ❤ !! :*

  4. Gak bosen bacanyaaa:’)) ChenChen di Wolf dan di Growl keceh badaaai:*** Makin cintaaah<3 apalagi sekarang ChenChen ultah…… #HappyChenChenDay we love you folevah! ❤

  5. Pdahl bias Saya di exo itu Chenchen loh… (T,T)
    Mskipun bukn kpopers a/pun exotics,ntah knpa tiap ngleiag dia pasti lngsung histeris sndiri..

    Chen oppa I LOve U!!

  6. huee aku nangis bacanya…
    ff-nya daebakk
    meskipun chen bukan ultimate bias di exo, tapi aku suka banget sama suara dia. tingkahnya pas di verity show bikin ketawa (?)
    chenchen love you ❤
    EXO FIGHTING!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s