Codex Ghathika [Before Story]

CG

Starring Kim Jong Dae aka Chen EXO-M

Author: Ei-si. featuring JongDay
Support Cast: Hwang Shin Jung (OC), others to be revealed
Genre: AU, Fantasy, Adventure
Rating: PG-15; might be dragged up for mature/death things or harsh words
Length: Series
Disclaimer: We have nothing but original cast(s) and plot. The plot came from our brain with a little mixture from many facts and fics, culture, and existing stories.

JongDay©

[Before Story]

“Bukalah dan kau akan bertamasya! Siapkan mentalmu karena ini bukan untuk seorang pengecut yang bersembunyi di balik ketiak ibunya. Siapkan hatimu karena kau akan mengalami guncangan ketika kau tidak bisa kembali sebelum menyelesaikan duabelas bab dalam buku ini. Buka, baca, selesaikan.”

Di ujung tebing itu kau harus berpikir, atau kau akan mati…

Jangan berhenti berhitung… Terus… terus…

Pegangi kepalamu karena sesuatu datang menghampiri…

Raih tali itu dan naiklah ke atas!

Puteri sedang menunggumu. Menunggumu menghabisinya…

Jauhkan jarum itu! Jangan sampai mengenai lehermu!

Seoul, 2013.

Lorong sekolah terlihat sepi. Tak ada gerombolan siswa yang bercengkrama di sepanjang aisle, tak ada juga kerumunan siswi yang biasanya merumpi. Angin di luar sana nampak menggelitik ranting pepohonan, mengetuk-ketukkan reranting ke jendela. Malam ini sepertinya akan turun hujan. Bisa dilihat dari gumpalan kumulus hitam terbentang di langit sore.

Kelas 3-C tinggal sepuluh langkah lagi dari sini—jika dihitung dengan benar. Aku harus cepat-cepat melangkahkan kakiku yang rasanya sudah lemas ini kembali ke kelas. Berkemas, menemui Shin Jung, dan pulang. Ah, ya, kalau ingat gadis tengil itu aku jadi sebal sendiri. Terang saja, rasanya kemampuan otakku dengannya tak jauh beda tapi kenapa saat tes verifikasi kenaikan kelas lalu aku dapat di kelas C sedangkan dia berada di kelas unggulan, kelas 3-A? Tidak adil. Ini tidak adil bagi seorang Kim Jong Dae.

Entahlah, aku malas memikirkannya. Lagipula saraf otakku sudah menegang sedari tadi karena pelajaran Matematika tambahan yang membuatku tercekik. Baiklah, tidak usah memikirkan hal-hal memusingkan lainnya. Segera saja kau pulang sebelum hari semakin gelap, Jong Dae-ya!

Tidak memerlukan waktu lama untuk mengemasi barangku. Kelas juga sudah sepi—hanya ada aku di sini. Ya jelas karena dari kelasku, cuma aku yang mengikuti kelas tambahan. Benar-benar menyebalkan. Kalau sudah begini langsung aku bergegas menjejakkan kaki ke arah kelas Shin Jung.

Kini koridor depan kelas menjadi gelap. Bukan gulita, hanya remang biasa ketika malam menjelang. Namun tiba-tiba saja suasana di sini berubah mencekam, hawa dingin mendadak melewatiku, sontak bulu remangku tegak berdiri. Jika dibayangkan memang seperti di film-film horor. Keren, tetapi memikirkan hal seperti itu adalah salah untuk saat ini.

Akhirnya aku sampai di depan kelas 3-A dan, eh? Tidak ada siapapun di kelas ini? Hampir pukul tujuh malam. Oh, pantas saja. Mungkin gadis itu terlalu lama menunggu makanya di—astaga! Aku ingat aku melupakan CD EXO yang baru kupinjam dari Jong In pagi tadi di loker mejaku! Jong Dae babo ya.

Dengan cepat aku berlari kembali ke kelasku dan langsung mengobrak-abrik seisi loker dan gotcha! Betapa leganya aku menemukan CD itu masih dalam keadaan utuh. Tunggu, ada sesuatu lain di dalam sana. Dan benar, aku menemukan sebuah buku usang nan kumal dan tebal. Kira-kira ini buku siapa? Kenapa ada di loker mejaku? Aku tak merasa pernah melihatnya apalagi memilikinya. Ah, sudahlah. Memikirkan itunya nanti saja. Lebih baik aku pulang sebelum hujan turun.

Bel istirahat telah berbunyi. Setidaknya tiga puluh menit ke depan menjadi waktu yang memang ditunggu-tunggu setiap siswa. Kebanyakan mereka langsung berlarian menuju kantin, sebagian hanya mengobrol dengan temannya di lorong, sebagian lagi lebih memilih tinggal untuk memakan bekal mereka di dalam kelas, di bawah sana juga sudah ada beberapa orang siswi yang ingin melihat pertandingan antar senior. Pertandingan basket sepertinya.

Aku pun ada di salah satu dari mereka yang melenggangkan kakinya ke kantin. Mengisi perut yang kosong adalah hal wajib mengingat 8-9 jam lagi aku membutuhkan energi ekstra yang harus kukuras untuk pelajaran tambahan sampai nanti malam. Awalnya melelahkan memang tetapi lama kelamaan sudah terbiasa. Yang lain saja bisa, masa’ aku tidak bisa? Tak ada kata tidak bisa untuk seorang Kim Jong Dae. Ha!

“Aww.”

Seorang gadis dengan rambut kuncir kuda di hadapanku meringis ketika kepalan tanganku mendarat mulus di atas kepalanya. Matanya terbelalak bulat saat dia melihat siapa pelaku jitakan kepala tadi. Aku.

“Hai, dahi lebar.”

“A-a-apa?! Ya, Kim Jong Dae! Apa yang kau lakukan dan barusan kau bilang apa? Dahi lebar?! Sembarangan!” Gadis itu, Shin Jung, tetangga sekaligus teman kecilku, terus memukuliku dengan buku yang sedari tadi asyik dibacanya sampai dia tidak menyadari kedatanganku.

“Ini kantin, tempat untuk orang makan. Jika kau ingin membaca pergilah ke perpustakaan,” balasku yang kemudian tak henti-hentinya mendapat umpatan darinya.

Aku tidak peduli dan langsung teringat dengan sesuatu yang kemarin kutemukan dalam loker begitu aku melihatnya sedang membaca tadi. Sebuah buku tua kuletakkan di atas meja, memandanginya serius berharap hanya dengan memandanginya aku bisa mendapatkan jawaban. Namun itu berhasil nihil. Jelas sampai Korea Selatan berbaikan dengan Korea Utara pun buku itu akan tetap di sana, tidak memberikanku apa pun jika aku diam saja seperti ini. Yang jelas, pertama, aku harus tahu dulu siapa pemilik buku ini sebenarnya.

“Ini kantin, tempat untuk orang makan. Jika kau ingin membaca pergilah ke perpustakaan.”

Aku menoleh. Shin Jung menyeringai puas saat ia berhasil membalikkan perkataanku tadi.

“Aku tak ada niat untuk membaca. Omong-omong, apa kau tahu buku ini? Codex Ghathika. Aku menemukannya kemarin malam di loker bawah mejaku. Buku ini terlihat dimakan usia. Lihat saja pinggiran kertasnya yang robek-robek. Selain itu, dalam buku ini terdapat duabelas bab yang tidak jelas tentang apa. Ini, sampul depan buku ini saja aneh begini. Sebuah lingkaran besar dengan simbol-simbol—yang tidak kuketahui apa—mengelilinginya. Aneh, bukan?”

Codex Ghathika? Sangat mencurigakan. Oh, apa kau tidak menyadari, di setiap simbol yang membentuk lingkaran besar tersebut terdapat seperti lubang. Iya, simbol-simbol itu adalah lubang. Kau perhatikan baik-baik.”

“Benar. Tadi malam aku juga coba membaca isinya tapi tak ada satu pun yang kumengerti. Bahkan dibalik sampul depan terdapat tulisan, “Jika kau bukan yang berjiwa besar, maka jangan coba-coba membuka buku ini.” Benar-benar bikin merinding. Aku sudah mencoba ke perpustakaan untuk menanyakan buku milik siapa ini tapi petugas di sana juga tidak tahu karena memang tidak ada buku seperti ini di indeks mereka. Nama si pemilik juga tidak tercantum.”

I have no idea, Jong Dae-ya. Meskipun aku sering membaca buku online dan pergi ke perpustakaan, tapi aku tak pernah sekali pun mendengar judul buku itu. Begini saja, akan kutanyakan hal ini pada sepupuku, Tiffany. Dia adalah seorang penulis yang bekerja di perpustakaan nasional. Dia juga mempunyai cukup banyak relasi yang bergelut dalam bidang pernovelan dan jurnal. Mungkin kita bisa mendapat sedikit petunjuk dan semoga saja buku ini tidak membawa keburukan.”

Érchetai i̱ pli̱mmýra (the flood is coming), leípei o proïstámenos (the missing head), ap­—aish! Apa pula tulisan-tulisan alien ini?!”

Asal aku mengacak rambutku frustrasi dan membanting buku itu ke atas tempat tidur. Ini sudah ke-421—tidak, berlebihan—kalinya aku membaca buku itu tetapi tetap tak satu pun yang dapat aku pahami. Terlebih istilah-istilah asing tadi yang sepertinya berasal dari zaman dewa-dewi Yunani. Sungguh, jika itu adalah buku pelajaran Sejarah maka aku akan mengutuk penulisnya yang menuliskan bahasa-bahasa seperti itu. Dan jika itu adalah buku dongeng cerita fiksi anak-anak, aku akan mengutuknya juga karena buku itu sama sekali tidak mendidik! Mendidik apanya.

Buku itu tergeletak begitu saja dengan keadaan terbuka. Yang menarik perhatian sekarang adalah dari balik sampul belakang buku yang terbuka itu tampak ada sesuatu yang terselip di sana. Sesuatu yang panjangnya sekitar sepuluh sentimeter, berwarna emas, dan terbentuk dari logam… kunci? Sebuah kunci. Aku mengambil kembali buku itu untuk melihat lebih jelas benda apa di dalam sana. Memang benar sebuah kunci dengan ujung berbentuk seperti lambang scorpion atau… entahlah. Bentuknya memang seperti simbol Bintang Kala di horoscope.

Rasanya tidak asing. Simbol itu rasanya tidak asing bagiku karena aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana? Aku tidak ingat. Yang kuingat itu adalah salah satu dari duabelas simbol yang ada di sampul depan buku ini. Itu dia! Kunci ini memiliki ujung yang sinkronis dengan lubang simbol yang sama. Akan tetapi, apa semua ini hanya suatu kebetulan? Kunci dan lubang… bukankah mereka match?

Kumasukkan kunci tersebut ke dalam lubangnya di sana. Sedetik tidak ada apa pun yang terjadi tetapi detik berikutnya, pusaran angin mengerumuni buku tersebut sampai benda itu terbuka secara utuh pada tengah-tengah halaman. Di sana tertulis,

“Selamat datang, Wahai Sang Petualang. Dengan kebesaran hati dan jiwamu, kau akan menikmati perjalanan ke dunia tanpa ujung di mana tak ada seorang pun sanggup melewatinya. Kau tidak akan menemukan jalan kembali tapi petualangan.”

Huh? Apa ini? Dunia tanpa ujung dan tidak akan kembali? Lucu seka—AAAHH!

Teh hangat ini akan membawamu pada sukacita…

Dengarkan nasihatnya, dia orang sakti…

Kalian bisa membeli apel, roti, bahkan daging sepuasnya, tapi jangan serakah!

Jelikan matamu, jangan percaya pada teman ataupun lawan…

Berlayar bersama burung kecil sangat menyenangkan…

Jangan tatap matanya atau kau tak dapat kembali…

-To Be Continued-

A/N:

So, lemme explain few things tentang fanfiction ini.

Fanfiction ini dibuat oleh dua orang author, yaitu Ei-si dan Jongday (atau saya) xD

Jadi, fanfiction ini bisa dibaca di blog pribadi Jongday maupun di blog pribadi Ei-si.

Don’t forget to read, comment and like.

Advertisements

5 thoughts on “Codex Ghathika [Before Story]

  1. yeah sebenarnya aku udah baca teasernya dan sangat menarik dan penasaran sama jalan ceritanya. waktu pertama baca ini jadi keinget Death Note #ApalahIni tapi ini bagus banget! author hiatus ya? yahh padahal pingin kelanjutannya nih hehe.. Fighting ya!

    1. Hiatus bikin epepnya doang -_- eksistensi author di blog ini tetap terjaga huahuahua.
      Author Ei-si juga mau skripsi sepertinya -_-
      Yep! Silakan tunggu kelanjutannya *kalo sabar muehehe* thanks udah mampir yaa 😀 😀

  2. aku suka cerita” spt ini.
    cerita tentang fantasi nd petualangan nd kekuatan nd misteri pokoknya suka dech.

  3. wah ceritanya keren! penasaran gimana nasib Jong Dae di next part. Habis hiatus lanjutin FF ini ya? Keep writing, thor! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s